Berita UtamaNews

Tak Semua Buaya Sama, Ahli IPB Ungkap Perbedaan Mengejutkan antara Buaya Muara dan Buaya Air Tawar

×

Tak Semua Buaya Sama, Ahli IPB Ungkap Perbedaan Mengejutkan antara Buaya Muara dan Buaya Air Tawar

Sebarkan artikel ini
Perbedaan Buaya Muara dan Buaya Air Tawar
Ahli IPB University Prof Burhanuddin Masyud mengungkap perbedaan buaya muara dan buaya air tawar dari habitat, ukuran tubuh, perilaku hingga status konservasinya di Indonesia.

KITAINDONESIASATU.COM- Tidak semua buaya memiliki karakter yang sama. Meski sama-sama dikenal sebagai predator ganas, buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar atau buaya siam (Crocodylus siamensis) ternyata memiliki perbedaan mencolok, mulai dari habitat, ukuran tubuh hingga perilakunya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Buaya Sedunia setiap 17 Juni, Pakar IPB University Prof Burhanuddin Masyud menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya yang tinggi.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya yang tinggi. Setidaknya terdapat lima jenis buaya yang telah teridentifikasi, meskipun sejumlah pakar menyebut jumlahnya bisa lebih banyak,” ujar Prof Burhanuddin, dalam keterangan tertulis, Minggu 21 Juni 2026.

Buaya Muara Lebih Besar dan Agresif

Menurut Prof Burhanuddin, buaya muara umumnya hidup di sungai, muara, pesisir pantai, hingga perairan payau. Spesies ini memiliki ukuran tubuh yang sangat besar, dengan panjang mencapai 5 hingga 7 meter dan bobot lebih dari satu ton.

Selain itu, buaya muara memiliki moncong yang lebar dan kuat serta dikenal sebagai predator puncak yang sangat teritorial.

“Buaya muara aktif berenang, jantan dewasa lebih dominan dan agresif, serta memiliki wilayah kekuasaan yang kuat,” jelasnya.

Buaya Air Tawar Cenderung Pemalu

Berbeda dengan buaya muara, buaya air tawar lebih banyak ditemukan di rawa, sungai, dan danau air tawar yang jauh dari pengaruh laut. Ukurannya lebih kecil dengan panjang rata-rata 1,5 hingga 2,5 meter serta memiliki moncong yang lebih ramping berbentuk huruf “V”.

Menurut Prof Burhanuddin, spesies ini cenderung lebih tenang dan menghindari kontak dengan manusia.

“Buaya air tawar cenderung lebih tenang, pemalu, dan menghindari manusia. Perilaku menyerang biasanya terjadi ketika satwa tersebut terdesak atau mempertahankan diri,” tambahnya.

Sama-sama Dilindungi, Status Konservasi Berbeda

Prof Burhanuddin menjelaskan bahwa kedua jenis buaya tersebut termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun, status konservasinya berbeda.

Buaya muara berstatus least concern atau berisiko rendah menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sementara itu, buaya air tawar berstatus critically endangered atau kritis karena menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi.

Penangkaran Penting untuk Kelestarian Buaya

Prof Burhanuddin menegaskan bahwa lembaga konservasi, kebun binatang, dan penangkaran memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan populasi buaya di Indonesia.

Selain menjadi cadangan plasma nutfah, penangkaran juga membantu mengurangi tekanan perburuan di alam serta mendukung program pelepasliaran satwa.

“Keberhasilan penangkaran dapat menjadi sistem pendukung penting bagi konservasi buaya di habitat alaminya sekaligus mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *