KITAINDONESIASATU.COM – Kematian Yahya Sinwar, pemimpin senior Hamas yang menjadi otak di balik serangan 7 Oktober 2023. Menciptakan kekosongan besar dalam kepemimpinan Hamas dan berpotensi mengubah arah konflik di Gaza.
Sinwar, yang berusia 61 tahun. Tewas dalam insiden tak terduga ketika pasukan Angkatan Pertahanan Israel (IDF) melepaskan tembakan tank ke sebuah gedung di Rafah selama operasi patroli.
Jenazahnya di temukan di bawah puing-puing gedung yang di hancurkan dalam serangan tersebut.
Kematian Yahya menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan Hamas dan siapa yang akan menggantikannya.
Jonathan Schanzer, wakil presiden senior di Foundation for Defense of Democracies dan pakar Hamas, mengungkapkan bahwa Hamas kini berada dalam kondisi yang kacau setelah kematian Sinwar.
Menurutnya, pemimpin baru Hamas akan memainkan peran kunci dalam menentukan nasib kelompok tersebut serta masa depan konflik yang sedang berlangsung.
Yahya Sinwar sendiri mengambil alih kepemimpinan Hamas di Gaza pada 2017. Kemudian menjabat sebagai pemimpin tertinggi organisasi setelah Ismail Haniyeh di bunuh di Iran pada Juli 2024.
Pengganti Sinwar akan sangat berpengaruh dalam menentukan masa depan lebih dari 100 sandera yang masih di tahan oleh Hamas sejak serangan 7 Oktober, serta bagaimana konflik dengan Israel akan berlanjut.
Jika pengganti yang di pilih bersifat moderat, mungkin ada peluang untuk memulai kembali pembicaraan damai.
Namun, jika pemimpin baru Hamas melanjutkan kebijakan keras seperti Sinwar. Konflik berisiko terus berlarut-larut, dengan pembantaian lebih lanjut di masa mendatang.
Beberapa calon potensial untuk menggantikan Yahya Sinwar mulai muncul. Salah satu nama yang di sebut-sebut adalah saudara laki-lakinya, Mohammed Sinwar.


