KITAINDONESIASATU.COM – Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), diguncang rentetan gempa bumi dangkal dalam waktu berdekatan pada Jumat (29/5) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tiga gempa berkekuatan 3,1 hingga 3,7 Magnitudo terjadi hanya dalam hitungan jam dan memicu kepanikan warga di sejumlah wilayah.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, mengungkapkan bahwa ada dua sesar aktif yang diduga berkaitan dengan rangkaian gempa tersebut, yakni Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae. Namun hingga kini BMKG masih mendalami sesar mana yang menjadi pemicu utama guncangan beruntun itu.
“Berdasarkan literatur yang ada terdapat dua sesar yang berdekatan dengan lokasi gempa, yaitu Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae. Namun, sesar mana yang memicu gempa tersebut masih memerlukan analisis lebih lanjut,” ujar Sumawan.
Gempa pertama mengguncang pada pukul 04.03 WITA dengan kekuatan 3,7 Magnitudo dan kedalaman 11 kilometer. Titik gempa berada sekitar 18 kilometer di utara Kabupaten Lombok Barat. Guncangan terasa hingga Lombok Utara, Mataram, dan Lombok Tengah.
BMKG menyebut gempa pertama dipicu aktivitas sesar aktif di dasar laut. Tak lama setelah itu, dua gempa susulan langsung tercatat hingga pukul 04.25 WITA.
Belum reda ketegangan warga, gempa kedua kembali terjadi sekitar pukul 05.43 WITA dengan magnitudo 3,1. Pusat gempa berada di wilayah barat daya Kabupaten Lombok Utara dengan kedalaman 13 kilometer. Getarannya kembali terasa di Lombok Barat dan Kota Mataram.
Aktivitas gempa terus berlanjut. Pada pukul 07.20 WITA, gempa ketiga berkekuatan 3,2 Magnitudo kembali mengguncang kawasan utara Lombok Barat. BMKG menyatakan gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas sesar aktif di darat dan turut dirasakan warga Mataram hingga Lombok Tengah.
BMKG juga mencatat adanya gempa susulan di lokasi yang sama setelah guncangan ketiga terjadi.
Meski rentetan gempa membuat warga waswas, BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu liar yang belum terverifikasi. Warga juga diimbau terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa susulan.(*)

