KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya buka suara soal kondisi utang pemerintah Indonesia yang kini hampir menembus Rp10 ribu triliun. Meski angkanya fantastis, pemerintah menegaskan posisi utang nasional masih dalam kategori aman dan terkendali.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, total utang pemerintah per 31 Maret 2026 tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Masih aman, masih sekitar 40 persen lebih sedikit, jadi aman,” ujar Purbaya saat memberikan keterangan di kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Senin (11/5).
Pernyataan itu langsung menjadi sorotan publik mengingat nilai utang Indonesia terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Purbaya menegaskan Indonesia justru termasuk negara yang paling hati-hati dalam mengelola utang dibanding banyak negara lain.
Ia membandingkan rasio utang Indonesia dengan sejumlah negara tetangga dan negara maju yang nilainya jauh lebih tinggi. Singapura disebut memiliki rasio utang sekitar 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia mencapai 60 persen.
Bahkan dibandingkan negara raksasa seperti Amerika Serikat dan Jepang, posisi utang Indonesia diklaim masih jauh lebih terkendali.
“Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara sekeliling kita,” katanya.
Sebagai informasi, Undang-Undang Keuangan Negara menetapkan batas maksimal rasio utang pemerintah sebesar 60 persen terhadap PDB. Dengan posisi saat ini di angka 40,75 persen, pemerintah menilai kondisi fiskal nasional masih berada di jalur aman.
Mayoritas utang pemerintah berasal dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Nilai outstanding SBN tercatat mencapai Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.
Sementara sisanya berasal dari pinjaman dengan nilai Rp1.267,52 triliun atau 12,78 persen.
Pemerintah juga memastikan strategi pembiayaan utang dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan efisiensi biaya, mitigasi risiko, tata kelola yang baik, serta menjaga stabilitas indikator utang nasional.
Adapun realisasi pembiayaan APBN 2026 hingga akhir Maret tercatat sebesar Rp257,4 triliun, yang terdiri atas pembiayaan utang Rp258,7 triliun dan pembiayaan non-utang Rp1,3 triliun. (*)



