KITAINDONESIASATU.COM – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta bikin Pemprov DKI angkat tangan jika harus bekerja sendiri. Pemerintah menegaskan penanganan spesies invasif tersebut mustahil efektif tanpa campur tangan daerah hulu di Jawa Barat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menyebut ancaman ikan sapu-sapu kini sudah menjadi persoalan lintas wilayah yang serius karena sebagian besar sungai di Jakarta bermuara dari kawasan Jawa Barat.
“Kalau hanya dikendalikan di Jakarta sementara di daerah hulu masih ada, saya rasa tidak efektif,” ujar Hasudungan dalam webinar di Jakarta, Kamis (7/5).
Ia menjelaskan, sebanyak 13 sungai yang melintasi Jakarta memiliki hulu di wilayah Jawa Barat. Karena itu, pengendalian ikan sapu-sapu dinilai harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir agar hasilnya benar-benar maksimal.
Ikan sapu-sapu selama ini menjadi momok di perairan Jakarta karena dikenal sebagai spesies invasif yang bisa merusak habitat ikan lokal dan mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.
Pemprov DKI sendiri sudah melakukan berbagai langkah agresif untuk menekan populasinya. Mulai dari penangkapan massal, edukasi masyarakat, penguatan regulasi, hingga menggandeng BRIN untuk mengolah ikan sapu-sapu menjadi produk non-pangan.
Menariknya, ribuan ikan sapu-sapu yang ditangkap kini sedang dikaji agar bisa diubah menjadi pupuk organik, bahan budidaya maggot, hingga arang ramah lingkungan.
“Kami berkolaborasi dengan BRIN untuk mengkaji hasil tangkapan ikan sapu-sapu agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan non-pangan,” ujarnya.
Hasudungan menilai langkah hilirisasi ini penting agar penanganan ikan sapu-sapu tidak sekadar berakhir pada penangkapan dan pemusnahan, tetapi juga memberi nilai ekonomi dan lingkungan.
Sebelumnya, Dinas KPKP DKI mencatat sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu berhasil ditangkap secara serentak di lima wilayah Jakarta pada April 2026. Total berat tangkapan mencapai hampir 7 ton. (*)

