KITAINDONESIASATU.COM – Perseteruan antara Presiden AS Donald Trump dan Paus Leo XIV terus berlanjut dalam konfrontasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Terjadinya perang Iran – Israel yang didukung Amerika Serikat memicu meningkatnya kritik Paus dalam beberapa pekan terakhir terhadap perang AS-Israel di Iran.
Bahkan Trump tidak terima kritikan yang dilontarkan Paus dengan kembali mengkritik Paus pada hari Rabu (15/4/2026), dengan mengatakan bahwa kepemilikan bom nuklir oleh Iran adalah sama sekali tidak dapat diterima, meskipun Paus tidak mendukung Iran untuk memperoleh senjata nuklir.
Trump, melalui unggahan di platform Truth Social, menyebut Paus Leo memiliki rekam jejak yang lemah dalam memerangi kejahatan dan kebijakan luar negerinya buruk.
Trump juga menyiratkan bahwa Leo, Paus pertama dari Amerika, tidak akan terpilih jika bukan Trump yang sedang menjabat Presiden AS.
Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga mengecam pernyataan Trump terhadap Paus Leo.
“Saya menganggap kata-kata Presiden Trump mengenai Bapa Suci tidak dapat diterima,” kata Meloni dalam pernyataan yang dirilis Senin (13/4/2026).
dikatakan Paus adalah Pemimpin Gereja Katolik, adalah hal yang benar dan wajar jika beliau menyerukan perdamaian dan mengutuk semua bentuk perang.
Paus menanggapi dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada hari Senin, mengatakan bahwa ia bermaksud untuk terus mengkritik perang tersebut meskipun ada pernyataan Trump.
Sementara kepada CNN Pau juga mengungkap jika dirinya akan menyuarakan Injil dengan lantang, karena itu yang menjadi keyakinannya.
“Saya tidak takut pada pemerintahan Trump maupun untuk menyuarakan Injil dengan lantang. Itulah yang saya yakini,” kata Paus yang diwawancarai di dalam pesawat.
Lebih jauh Paus menjelaskan jika dirinya terpanggil untuk menjadi panggilan Gereja.
“Saya dipanggil untuk melakukan apa yang menjadi panggilan Gereja,” ungkapnya.
Lebih jauh Pau Leo mengatakan jika dirinya bukanlah seorang politisi yang menjadi pemahaman Trump tetapi dirinya percaya pada pesan Injuil.
“Kami bukan politisi, tidak bertujuan menyusun kebijakan luar negeri. Seperti yang mungkin ia pahami. Namun saya percaya pesan Injil. berbahagialah pembawa damai, adalah pesan yang dibutuhkankan dunia saat ini,” ungkap Paus Leo mengakhiri wawancaranya. **

