KITAINDONESIASATU.COM – Sebuah surat evaluasi dari SMAN 1 Ciemas, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat, viral di media sosial.
Dalam surat tersebut, sekolah menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru mengganggu tugas utama guru.
Alih-alih fokus mengajar, guru harus sibuk mengurus distribusi “ompreng” makanan.
Sebagaimana unggahan @infopnsdanpppk, seorang guru yang mengaku disibukkan dengan pembagian MBG menceritakan beban tambahan yang tidak sesuai job description.
“Saya sebagai guru mengakui memang mengganggu jam mengajar kok, sekarang yang piket itu dari set7 harus standby disekolah serah terima ompreng, terus bagikan di jam 9 pas anak-anak istirahat,” tulis akun @salmawati_s.
Ia juga mengeluh soal upah yang tidak sesuai, “Presiden koarkoar diberita guru piket mbg dpt 100k per hari, herannya saya cuma dibayar 20k per hari.”
Distribusi Ompreng Sekolah: Beban Fisik dan Mental
Tidak hanya mengganggu waktu mengajar, proses distribusi makanan juga merepotkan. Guru harus mengikat rafia, memilah sisa makanan, dan bertanggung jawab jika ada yang hilang.


