KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menanti kejelasan terkait implementasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Mata uang Garuda tercatat turun 78 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp17.090 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah dipicu ketidakpastian global, terutama menyangkut realisasi kesepakatan yang disebut mencakup berbagai poin penting dalam upaya meredakan konflik. Meski telah muncul sinyal positif dari kedua negara, pasar masih meragukan efektivitas implementasi di lapangan.
Ketidakpastian Global Tekan Rupiah
Situasi geopolitik di kawasan Asia Barat menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Ketegangan yang belum sepenuhnya mereda, termasuk dinamika di Lebanon serta isu keamanan jalur energi strategis seperti Selat Hormuz, membuat sentimen pasar cenderung berhati-hati.
Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Dampaknya, dolar AS menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga terbatas akibat perlambatan ekspor serta tekanan pada cadangan devisa. Selain itu, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan defisit anggaran masih membayangi.
Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.082 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih berlanjut pada mata uang domestik.(*)




