KITAINDONESIASATU.COM – Gelombang demonstrasi besar kembali terjadi di Amerika Serikat pada Sabtu, 29 Maret 2026, ketika jutaan warga diperkirakan mengikuti aksi nasional bertajuk “No Kings” untuk tolak Donald Trump.
Aksi ini menjadi yang ketiga kalinya digelar sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi berlangsung serentak di seluruh 50 negara bagian dan meluas hingga ke 16 negara lain, menjadikannya salah satu aksi protes paling terkoordinasi dalam sejarah modern AS.
Aksi tersebut digerakkan oleh berbagai kelompok, termasuk Indivisible, jaringan 50501, serikat pekerja, serta komunitas akar rumput.
Lebih dari 3.000 titik demonstrasi dilaporkan tersebar di berbagai wilayah. Aksi ini muncul di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump, bahkan memicu kekecewaan dari sebagian pendukungnya sendiri.
Isu yang disoroti meliputi konflik dengan Iran, kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan tarif impor, serta masalah layanan publik seperti antrean panjang di bandara.
Aksi Tolak Donald Trump Meluas dan Soroti Berbagai Isu Nasional
Salah satu titik aksi terbesar terjadi di Minnesota, tepatnya di depan gedung Capitol negara bagian, yang disebut sebagai demonstrasi terbesar dalam sejarah wilayah tersebut.
Sementara itu, di Washington DC, aksi juga diwarnai kehadiran kelompok perempuan Palestina yang menggelar protes di kawasan Lincoln Memorial dengan membawa simbol solidaritas.
Di sisi lain, aksi tandingan juga muncul di beberapa lokasi seperti West Palm Beach, di mana pendukung Trump berhadapan dengan massa “No Kings”.
Meski demikian, penyelenggara menegaskan bahwa aksi dilakukan secara damai dengan larangan membawa senjata serta penerapan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi konflik, mengingat insiden kekerasan sempat terjadi pada aksi serupa sebelumnya.(*)



