KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah memasuki minggu ketiga diperkirakan mendorong harga minyak dunia terus meningkat.
Lonjakan harga terjadi setelah gangguan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dunia.
Jalur tersebut selama ini menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global.
Akibat situasi tersebut, harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil dan West Texas Intermediate dilaporkan melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 2022.
Ketegangan meningkat setelah serangan militer yang menargetkan wilayah Iran memicu respons keras dari Teheran, termasuk penghentian sementara pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut.
Serangan Energi di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Global
Situasi semakin memanas setelah serangan drone menargetkan terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab.
Fasilitas tersebut diketahui menjadi jalur penting ekspor minyak mentah yang memasok sekitar satu juta barel per hari ke pasar global.
Selain itu, beberapa fasilitas energi penting di kawasan Teluk seperti Ras Tanura dan Abqaiq di Arab Saudi juga dinilai berada dalam kondisi rawan.
Lembaga energi internasional memperkirakan gangguan pengiriman dapat mengurangi pasokan minyak global hingga jutaan barel per hari pada Maret 2026.
Kondisi ini membuat harga energi berpotensi terus bergejolak hingga konflik mereda.(*)


