Sosok

Siti Soraya Cassandra, Pelopor Berkebun Ramah Lingkungan di Kota

×

Siti Soraya Cassandra, Pelopor Berkebun Ramah Lingkungan di Kota

Sebarkan artikel ini
FotoJet 6 5
Sandra dan Kebun Kumara

Banyak orang beranggapan bahwa berkebun memerlukan lahan luas dan cuaca sejuk, sehingga hanya mungkin dilakukan di desa.

Namun, berkebun juga dapat dilakukan dengan mudah di lingkungan perkotaan. Salah satu cara untuk menghadapi perubahan iklim adalah dengan memanfaatkan dan memperbaiki tata ruang kota yang berkelanjutan melalui penambahan ruang hijau.

Siti Soraya Cassandra, atau yang biasa dipanggil Sandra, adalah salah satu perempuan di kota yang membuktikan bahwa berkebun bisa dilakukan tanpa perlu lahan luas. Ia memulai usaha Kebun Kumara, sebuah wirausaha sosial di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat kota tentang gaya hidup yang lebih harmonis dengan alam.

Sandra mulai tertarik berkebun pada tahun 2015 setelah mengunjungi Bumi Langit di Jogjakarta. Pengalaman tersebut mengingatkannya bahwa kebutuhan pokok seperti makanan bisa ditanam sendiri di rumah. Ia pun membawa prinsip hidup berkelanjutan dan berkebun ke lingkungan perkotaan.

“Di Bumi Langit, kita belajar tentang cara menanam makanan yang mungkin tidak kita ketahui di perkotaan. Pulang dari sana, saya diingatkan bahwa kita harus memahami cara menanam makanan kita sendiri,” ungkap Sandra.

Saat itu, Sandra dan keluarganya sedang mencari ide bisnis yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Ia menyukai alam dan kegiatan luar ruangan, sehingga memilih berkebun sebagai bidang usaha.

Meskipun tidak memiliki latar belakang di bidang lingkungan, Sandra yang sebelumnya bekerja di bidang psikologi dan edukasi belajar banyak tentang berkebun di kota, termasuk cara mendapatkan ruang hijau dengan lahan terbatas.

“Di rumah, saya suka menanam tanaman hias dan belajar tentang kompos. Saya mulai menanam pohon pisang setelah mempelajari metode banana circle, di mana sampah makanan ditaruh di bawah pohon pisang untuk menjadi kompos,” jelas Sandra.

Setelah tertarik dengan isu lingkungan dan mengikuti hobi berkebun, Sandra bersama suami dan keluarganya mendirikan Kebun Kumara pada tahun 2016. Semua dilakukan secara mandiri, mulai dari menggunakan tabungan untuk modal hingga merancang bisnis dan memperkenalkan Kebun Kumara ke masyarakat.

Sandra berkomitmen untuk meningkatkan jumlah ruang hijau di kota, termasuk di rumah, serta membangun kebiasaan berkebun, mengompos, dan memilah sampah. Ia percaya bahwa dengan berkebun, anggota keluarga, terutama anak-anak, dapat hidup lebih sehat.

“Jika di rumah ada kebun meskipun kecil, anak-anak bisa lebih aktif bermain dan lebih sering mengonsumsi sayur. Budaya hidup sehat dimulai dari rumah,” tambahnya.

Dengan berkebun, Sandra meyakini bahwa kesadaran akan pentingnya alam dapat tumbuh dan memupuk kehidupan yang lebih bermakna.

Sandra menjelaskan bahwa Kebun Kumara pernah menyewa lahan di Situ Gintung, Ciputat hingga tahun 2020. Saat ini, Kebun Kumara berlokasi di Halaman 7, Pondok Cabe, sambil menunggu tempat baru untuk berkantor.

Sejak tahun 2018, Kebun Kumara mulai menawarkan layanan lanskap yang mengedepankan prinsip permakultur, berfokus pada keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan. Pada tahun 2019, Kebun Kumara meluncurkan program Kompos Kolektif, yang bertujuan untuk mengurangi sampah organik dengan bekerja sama dengan Magalarva.

Mulai tahun 2020, Kebun Kumara juga membuat konten edukasi digital untuk menyebarkan semangat peduli lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan.

Sandra menekankan bahwa Kebun Kumara bukan sekadar urban farm yang hasil panennya dijual, melainkan lebih berfokus pada edukasi tentang berkebun, pengomposan, permakultur, dan daur ulang plastik bagi anak-anak dan dewasa.

Kebun Kumara juga menyediakan layanan pembuatan konten dan landscaping, yang mencakup desain dan konstruksi kebun untuk individu atau pihak lain yang ingin memiliki kebun pangan di rumah.

“Melalui landscaping, kita bisa menciptakan hutan kecil di perkotaan, seperti pocket forest, dan membuat kebun di lahan terbatas. Ruang hijau di kota sangat mungkin diwujudkan karena prinsip berkebun hanya memerlukan matahari, tanah, dan air,” pungkas Sandra.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *