KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah eskalasi perang yang kian memanas di Timur Tengah, isu suksesi kepemimpinan di Iran mendadak menjadi sorotan dunia. Nama Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, kini santer dikabarkan sebagai calon kuat pengganti sang ayah yang tewas akibat penyerangan pasukan Amerika Serikat dan Israel.
Mojtaba bukanlah sosok baru dalam lingkaran kekuasaan di Teheran. Berbeda dengan citra ulama konservatif pada umumnya, Mojtaba dikenal sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar di balik layar, terutama dalam mengendalikan unit-unit elit militer dan jaringan bisnis raksasa.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa ia merupakan seorang konglomerat properti dengan aset yang menggurita, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh secara ekonomi di Iran.
Karier politiknya mulai menonjol saat ia berperan aktif dalam operasi penumpasan aksi protes “Gerakan Hijau” pada 2009 silam. Sejak saat itu, pengaruhnya di korps Garda Revolusi (IRGC) dilaporkan semakin menguat.
Kedekatannya dengan militer dan kendalinya atas sektor properti strategis dianggap sebagai modal utama untuk menjaga stabilitas rezim setelah Ali Khamenei akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya Israel.
Namun, pencalonan Mojtaba tidak lepas dari kontroversi. Sebagian pihak menganggap suksesi ini sebagai upaya pembentukan “dinasti baru” yang bertentangan dengan prinsip-prinsip awal Revolusi Islam 1979 yang menentang sistem monarki.
Meski demikian, di tengah ancaman serangan Israel dan AS, figur Mojtaba yang dikenal tegas dan didukung kekuatan finansial besar dipandang oleh lingkaran elit Iran sebagai opsi paling aman untuk menjamin kelangsungan kepemimpinan negara.(*)
