NewsBerita Utama

Harga Gas Alam Cair Naik Drastis, Terpukul Akibat Perang Iran – Israel dan AS

×

Harga Gas Alam Cair Naik Drastis, Terpukul Akibat Perang Iran – Israel dan AS

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz
Ratusan kapal antar negara terjebak di Selat Hormuz akibat perang Iran - Israel dan AS

KITAINDONESIASATU.COM – Harga gas di Asia dan Eropa melonjak seiring pecahnya perang Israel – AS dengan Iran, berdampak lumpuhnya Selat Hormuz, yang menghentikan ekspor gas alam cair dari Qatar, Selasa (3/3/3036).

Dilaporkan oleh Financial Times diyakini bahwa guncangan terhadap pasar gas ini lebih parah daripada guncangan tahun 2022 dengan pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Kuantitas tahunan yang hilang dari pasar akibat Rusia sekitar 80 miliar meter kubik, dibandingkan peraang saat ini sekitar 120 miliar meter kubik yang mungkin hilang dari Timur Tengah sebagai akibat dari penutupan Selat Hormuz.

Natasha Fielding dari Argus Media yang mengatakan bahwa perang yang berkepanjangan dapat memiliki dampak serupa dengan perang di Ukraina, tetapi jika gangguan tersebut bersifat sementara hanya selama seminggu, tidak akan ada perbandingan dengan titik balik utama pada tahun 2022.

Menurut surat kabar tersebut, harga belum mencapai puncak tahun 2022, ketika indeks gas Eropa melebihi 343 euro atau sekitar $398,63 per megawatt-jam.

Hingga Selasa (3/3/3036), harga gas diperdagangan terus naik, mencatat peningkatan hingga 20% pada awal perdagangan menjadi 56,5 euro atau $65,66 per megawatt-jam.

Timur Tengah merupakan kawasan penting dalam produksi gas, dan Qatar tetap menjadi pemain paling terkemuka, karena terbatasnya jumlah jalur pipa, sebagian besar gas diekspor sebagai gas alam cair menggunakan kapal-kapal khusus berukuran besar.

Qatar telah mengubah dirinya menjadi pemain terbesar kedua di dunia dalam gas alam cair, dengan menyumbang sekitar 20% dari pasokan global.

Meskipun gas alam cair (LNG) hanya menyumbang sekitar 7%–8% dari pasokan gas global, LNG merupakan sumber utama bagi banyak negara dan oleh karena itu menjadi faktor kunci dalam menentukan harga.

Ekspor gas alam cair Qatar jauh melebihi ekspor Uni Emirat Arab, produsen lain di Semenanjung Arab adalah Oman, yang memiliki fasilitas ekspor di seberang Selat Hormuz, memungkinkan pengiriman untuk terus berlanjut, jika pelayaran ke Teluk menjadi tidak mungkin.

Surat kabar tersebut mencatat bahwa China dan India adalah importir terbesar gas alam cair Qatar, diikuti oleh Taiwan, Pakistan, dan Korea Selatan.

Menurut data pelacakan kapal tanker dari ClipperInsight, Pakistan menerima 99% impor LNG-nya dari Qatar dan UEA pada tahun 2025, sementara India dan Bangladesh bergantung pada kedua negara tersebut untuk lebih dari setengah kebutuhan mereka.

Eropa mendapatkan sekitar 10% impor gas alam cairnya dari Qatar, tetapi angka itu meningkat menjadi sekitar sepertiga di Italia.

Menurut surat kabar tersebut, hilangnya pasokan dari Qatar akan meningkatkan persaingan global untuk mendapatkan kiriman yang tersedia, dan pembeli Asia yang mencari alternatif selain gas Qatar kemungkinan akan beralih ke kiriman Amerika yang biasanya dikirim ke Eropa.

Menurut Financial Times, kenaikan tajam harga gas di Eropa merupakan risiko terbesar bagi perekonomian global sejauh ini akibat perang di Iran – Israel dan AS.

Direktur riset gas Asia S&P Global Energy, Chung Chi Shen, memperkirakan bahwa beberapa pasar mungkin akan kembali menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara jika harga gas tetap tinggi.

Jumlah gas yang diekspor dari Teluk tidak dapat dikompensasi dalam jangka pendek, karena pabrik pencairan gas sudah beroperasi pada kapasitas maksimum setelah bertahun-tahun harga yang relatif tinggi.

Meskipun fasilitas Golden Pass di Amerika Serikat , yang didukung oleh Qatar Energy dan ExxonMobil, seharusnya mulai beroperasi tahun ini, fasilitas tersebut membutuhkan waktu untuk secara bertahap meningkatkan produksi sebelum mencapai kapasitas maksimum, menurut surat kabar tersebut.

Sementara kantor berita Agence France-Presse (AFP) melaporkan bahwa harga kontrak gas alam TTF (Terminal Freight) Belanda – yang merupakan patokan di Eropa – naik lebih dari 33% setelah meningkat sekitar 40% pada hari Senin, menyusul penghentian produksi gas alam cair oleh Qatar.

Harga minyak mentah Brent juga naik lebih dari 4% menjadi $81 per barel pada perdagangan siang hari di Asia pada hari Selasa, di tengah perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *