KITAINDONESIASATU.COM – Setahun telah berlalu sejak Zionis Israel menghancurkan Gaza, Palestina, dengan mesin perangnya. Selama itu diperkirakan Amerika Serikat telah memberi Israel senjata senilai $17,9 miliar.
Perang yang tiada henti tentu menggerus kemampuan ekonomi Israel. Kementerian Keuangan Israel menyebut biaya langsung untuk membiayai perang di Gaza hingga Agustus diperkirakan mencapai 100 miliar shekel ($26,3 miliar). Nilai tersebut setara dengan Rp 411,3 triliun (US$1= Rp 15.640).
Angka ini diperkirakan bakal terus melonjak. Bank sentral Israel memperkirakan totalnya bisa naik menjadi 250 miliar shekel pada akhir 2025 dengan belum menghitung biaya invasi ke Lebanon.
Artinya, beban perang bisa melebih 250 milair shekel atau Rp 1.042 triliun. Biaya perang sangat mahal karena sistem pertahanan udara Iron Dome, mobilisasi pasukan secara besar-besaran, dan pengeboman tiada henti.
Tumpukan beban membuat rasio utang terhadap default melesat mendekati level tertinggi dalam 12 tahun sementara defisit anggaran terus membengkak.
“Selama perang terus berlanjut, utang negara akan terus memburuk,” kata Sergey Dergachev, manajer portofolio di Union Investment.
Rasio utang Israel terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kini berada di angka 62%. Angka tersebut naik pesat dibandingkan 2018 yang hanya 58,8%.
Tahun ini, rasio utang terhadap PDB diperkirakan akan mencapai 67%. Defisit anggaran pemerintah diperkirakan menyentuh 8,3% dari PDB, jauh di atas 6,6% yang sebelumnya diperkirakan.
“Meskipun Israel memiliki landasan ekonomi yang bagus. Ini (kenaikan utang) tetap membebani fiskal. Seiring waktu, itu akan memberikan tekanan pada peringkat,” ujar Dergachev.


