Berita UtamaSejarah

Bogor Jadi Episentrum Budaya, Golok Diperjuangkan Raih Pengakuan UNESCO

×

Bogor Jadi Episentrum Budaya, Golok Diperjuangkan Raih Pengakuan UNESCO

Sebarkan artikel ini
IMG 20260215 WA0012 scaled
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meninjau pameran golok dalam kegiatan munggahan pameran pusaka dan sarasehan budaya di Universitas Pakuan, Kota Bogor. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Dedie Rachim menekankan bahwa proses pengajuan golok sebagai warisan budaya ke UNESCO merupakan kerja panjang yang memerlukan penguatan literasi sejarah berbasis riset ilmiah. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi elemen penting dalam memastikan nilai historis dan filosofis golok terdokumentasi secara utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

“Karena ini menyangkut literasi kesejarahan yang kemudian bisa menjadi lebih dalam lagi untuk terus dilakukan penelitian,” ujar Dedie Rachim saat menghadiri pameran golok pada kegiatan munggahan pameran pusaka dan sarasehan budaya di Universitas Pakuan, Kota Bogor, Sabtu 14 Febuari 2026, kemarin.

Ia menjelaskan, perjalanan golok menuju pengakuan internasional didukung oleh berbagai dokumentasi, kajian literatur, penelitian mendalam, serta upaya pelestarian yang melibatkan sejumlah pihak, termasuk kalangan akademisi.

Baca Juga  Tragedi Laut Merah! Gelombang Tinggi Tenggelamkan Kapal Sea Story, Empat Jenazah Ditemukan

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi golok sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa sekaligus menjadi kebanggaan bersama.

Sejalan dengan upaya pelestarian tersebut, Pemerintah Kota Bogor juga berencana mewujudkan pembangunan Museum Pajajaran di kawasan Bumi Ageung Batutulis. Museum ini dirancang sebagai pusat edutainment yang tidak hanya menampilkan benda pusaka, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah dan budaya bagi masyarakat luas.

“Ini adalah sebuah proses bagaimana kita melestarikan budaya bangsa melalui karya-karya para pendahulu yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki manfaat,” ucapnya.

Baca Juga  Kebaya Indonesia Berjuang untuk Pengakuan UNESCO

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Golok Pedang Sepuh Nusantara, Gatut Susanta, menyebut pameran golok menjadi bentuk nyata sinergi dan kolaborasi lintas elemen dalam menjaga keberlanjutan budaya. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan nilai-nilai pusaka kepada generasi muda, khususnya di lingkungan akademik.

“Golok yang dipamerkan ini kurang lebih berjumlah 300 bilah, berasal dari koleksi terbaik yang sangat indah dan beragam. Yang paling lama berasal dari tahun 800-an pada masa Singosari,” ujarnya.

Terkait proses pengajuan ke UNESCO, Gatut mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyerahkan berbagai kelengkapan dokumen dan administrasi, termasuk hasil studi literasi, serta melakukan presentasi sebagai bagian dari tahapan penilaian.

Baca Juga  Jakarta Siaga Hujan Lebat di Akhir Pekan!

“Karena itu, kami terus berjuang agar golok juga dipahami sebagai alat ketahanan pangan, kemudian sebagai alat pertahanan, dan kini diperjuangkan sebagai pusaka,” tuturnya.

Dari kalangan akademisi, Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian budaya Nusantara. Ia berharap kegiatan ini mampu mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pengembangan kajian dan penelitian budaya.

“Sehingga Universitas Pakuan juga mendukung kegiatan hari ini yang sangat baik dalam menjaga tradisi dan melestarikan budaya agar lebih dikenal dan menyebar luas,” ujarnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *