Desa KitaInovasi

Inovasi Desa: Limbah Kulit Kopi Diolah Jadi Pakan Kambing Ramah Lingkungan

×

Inovasi Desa: Limbah Kulit Kopi Diolah Jadi Pakan Kambing Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
IMG 20251231 113545
Ilustrasi limbah kulit kopi hasil panen warga yang semula terbuang, kini diolah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Selama bertahun-tahun, limbah kulit kopi di Desa Margamulya, Kecamatan Pasir Jambu dan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi persoalan lingkungan yang tak kunjung menemukan solusi. Setiap musim panen, tumpukan kulit kopi hasil pengolahan biji kopi dibiarkan menggunung di pinggir jalan, kebun warga, bahkan mencemari aliran sungai kecil di sekitar desa.

Aktivitas pengolahan kopi di wilayah ini berlangsung hampir setiap hari saat panen raya. Dalam satu hari, sekitar 8 ton buah kopi (cherry) diolah untuk diambil bijinya. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan kulit kopi yang tidak dimanfaatkan, sehingga sedikitnya 5 ton limbah kulit kopi dihasilkan setiap harinya.

“Dalam satu bulan, produksi jumlah kulit kopi yang terkumpul mencapai 150 ton. Kulit kopi yang merupakan limbah hasil pengelolaan ini terbuang secara cuma-cuma,” ujar Ketua Tim Dospulkam IPB University, Prof Yuli Retnani, dalam keterangan tertulis, Rabu 31 Desember 2025.

Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah tersebut berpotensi besar mencemari lingkungan. Aroma asam menyengat dari kulit kopi yang mengalami fermentasi kerap dikeluhkan warga dan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Kondisi semakin memburuk saat musim hujan karena limbah mudah terbawa aliran air dan mencemari tanah pertanian serta saluran air milik warga.

Situasi itu mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margamulya untuk mencari solusi berkelanjutan. Upaya tersebut kemudian bertemu dengan program Dospulkam IPB University yang berfokus pada pendampingan desa melalui inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kolaborasi keduanya melahirkan terobosan pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi pakan ternak kambing yang ramah lingkungan.

Prof Yuli Retnani menyebut, inovasi ini menjadi angin segar bagi warga Margamulya yang mayoritas berprofesi sebagai petani kopi dan memelihara ternak kambing dalam jumlah terbatas sebagai bentuk investasi keluarga.

Melalui program Dospulkam, limbah kulit kopi diolah menjadi pakan mash atau tepung halus berkualitas. Proses pengolahannya relatif sederhana dan dapat diterapkan di tingkat desa. Kulit kopi terlebih dahulu dikeringkan secara alami di bawah sinar matahari hingga kadar airnya menurun, kemudian digiling menggunakan mesin grinder hingga berbentuk mash.

Produk pakan tersebut selanjutnya digunakan sebagai campuran pakan kambing, menggantikan sebagian kebutuhan pakan tambahan seperti konsentrat yang harganya relatif mahal. Dalam praktiknya, peternak cukup memberikan pakan kulit kopi ini secara bergantian dengan hijauan.

“Dari sisi nutrisi, kulit kopi kering memiliki kandungan serat kasar dan energi yang cukup baik untuk pakan ruminansia, khususnya kambing,” jelas Prof Yuli.

Hasil uji coba di lapangan menunjukkan respon positif dari ternak. Kambing tetap mau mengonsumsi pakan mash kulit kopi tanpa menunjukkan penurunan nafsu makan. Bahkan, bobot badan ternak tetap mengalami peningkatan secara normal. Kandungan serat dalam kulit kopi dinilai mampu membantu proses fermentasi rumen, meskipun tetap diperlukan pengaturan dosis agar tidak melebihi ambang batas serat kasar dalam ransum.

Tidak hanya berdampak pada sektor peternakan, inovasi ini juga memberikan manfaat signifikan bagi lingkungan. Volume limbah kulit kopi yang sebelumnya menumpuk di berbagai titik desa mulai berkurang. Bau menyengat yang kerap dikeluhkan warga pun tidak lagi tercium sekuat sebelumnya. Risiko pencemaran tanah dan air akibat limbah kopi juga dapat ditekan.

“Ini menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan,” tegas Prof Yuli.

Saat ini, BUMDes Margamulya tengah mempersiapkan produksi pakan mash kulit kopi dalam skala yang lebih besar guna memenuhi kebutuhan peternak di luar desa. Dukungan IPB University melalui program Dospulkam diharapkan dapat mendorong pengembangan teknologi pengolahan yang lebih efisien, higienis, dan berkelanjutan.

“Ke depan, Ciwidey ditargetkan menjadi desa percontohan pengolahan limbah kopi berkelanjutan di Indonesia, yang dapat ditiru oleh daerah penghasil kopi lainnya seperti Garut, Temanggung, atau Aceh Gayo,” tuturnya.

Melalui inovasi ini, limbah yang semula dianggap sebagai beban lingkungan kini bertransformasi menjadi sumber manfaat ekonomi dan ekologis. Model pengelolaan ini tidak hanya membantu peternak menekan biaya pakan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi desa melalui produksi dan pemasaran pakan berbahan kulit kopi. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *