Berita UtamaNews

Walhi Sebut Banjir Bandang Terjadi di Sumatera, Akibat Hilangnya Hutan Seluas 1,4 Juta Hektar

×

Walhi Sebut Banjir Bandang Terjadi di Sumatera, Akibat Hilangnya Hutan Seluas 1,4 Juta Hektar

Sebarkan artikel ini
banjir sumatera2
Kondisi anak-anak mengenaskan di pengusian, akibat banjir bandang yang terjadi di Sumatera. foto: tangkapan layar

KITAINDONESIASATU.COM – Banajir bandang yang terjadi di provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Subatera Barat telah menelan korban meninggal dunia sebanyak 753 orang dan 650 orang hilang, Rabu (3/12/2025).

Data dari Dashbord Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera 2025 dari Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) pukul 09:00 WIB mencatat 753 korban tewas, 650 hilang dan 2.600 luka-luka.

Banjir bandang yang mengerikan ini berdampak terhadap setengah juga penduduk terpaksa mengungsi atau sebanyak 576 ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga  Disopori Warga Tuban Mobil Sikat Pedagang Rujak Lamongan
banjir sumatera

Banjir yang terjadi telah melanda 50 kota dan kabupaten yang terjadi di tiga provinsi tersebut, diduga akibat kerusakan lingkungan parah akibat pembalakan hutan yang terjadi.

Berdasarkan data dari BNPB, total penduduk terdampak mencapai 3,3 juta jiwa dengan rinciannya, 1,7 juta jiwa terdampak di Sumatra Utara, 1,5 juta di Aceh, dan 141.800 di Sumatra Barat.

Banjir bandang tak hanya merusak infrastruktur seperti jalan, jembatan tetapi juga menghancurkan pemukiman warga rusak parah, dengan kerusakan mencapai sekitar 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rumah rusak sedang, dan 3.700 rumah mengalami kerusakan ringan.

Baca Juga  Anggota PKB DPRD Tuban Sebut Banjir Bandang Rangel Karena Kerusakan Lingkungan Parah

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bencana alam banjir, longsor yang terjadi disebabkan bukan cuaca ekstrem semata, namun akibat masifnya alih fungsi lahan.

Walhi menemukan sejak tahun 2016 hingga 2024 ketiga provinsi kehilangan 1,4 juga hektar hutan.

Di sana terdapat 631 izin perusahaan beroperasi, perusahaan bergerak di sektor tambang, sektor perkebunan monokultur sawit, PBPH atau Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan dan industri-industri ebergi lain seperti PLTA dalam skala besar di Batang, Toru dll.

Baca Juga  Banjir Bandang Malang Selatan, Tanah Longor, Banjir Hingga Warga Terseret Air

Dikatakan kondisi ekologis di tiga provinsi itu kini sudah rentan, hingga membuat daya rusak bencana menjadi besar ketika terjadi cuaca ekstrem.

Walhi melihat alih fungsi lahan adalah penyebab utama terjadinya banjir di tiga provinsi itu, sementara curah hujan, siklon dan lainnya itu hanya pemicu saja, di samping kondisi ekologi sudah rentan. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *