KITAINDONESIASATU.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan hingga pagi ini, Kamis (20/11/2025), belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11/2025) sore. Erupsi yang disertai luncuran Awan Panas Guguran (APG) sejauh hingga 7 kilometer tersebut membuat status gunung tertinggi di Jawa ini naik ke Level IV (Awas).
Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan bahwa langkah cepat evakuasi dan relokasi warga di daerah rawan yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya menjadi kunci. “Sejauh ini belum ada laporan dampak dan korban jiwa, mudah-mudahan kondisi ini terus bertahan,” ujarnya.
Meskipun demikian, data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat adanya sekitar 1.156 warga yang terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di tujuh titik pengungsian di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Lumajang.
Selain itu, dilaporkan ada dua warga yang mengalami luka bakar ringan akibat terkena dampak di sekitar Jembatan Gladak Perak.
Pemerintah Kabupaten Lumajang telah resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama tujuh hari, terhitung sejak 19 hingga 25 November 2025. BPBD bersama TNI/Polri, Basarnas, dan relawan terus bersiaga penuh, menyediakan logistik, dapur umum, dan layanan kesehatan untuk para pengungsi.
Sementara itu, tim SAR gabungan mulai mengevakuasi 178 pendaki yang terjebak di Ratu Kumbolo, kawasan Gunung Semeru pada Kamis 20 November 2025 pagi. Mereka berteduh di tempat yang aman dan jauh dari kawasan erupsi. Namun demikian keluarga para pendaki merasa was-was atas keselematan mereka. (*)


