KITAINDONESIASATU.COM- Lonjakan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bogor. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menunjukkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 1.683 anak yang terdiagnosis TBC. Kondisi tersebut diperparah dengan 280 kasus kematian akibat penyakit yang menyerang paru-paru tersebut, serta 139 kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) yang membutuhkan penanganan lebih sulit dan biaya lebih besar.
Sementara itu, angka keberhasilan pengobatan baru mencapai 83 persen, masih di bawah target 90 persen. Meningkatnya kasus membuat percepatan penanggulangan TBC perlu diperkuat secara menyeluruh.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bogor telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) sebagai upaya mempercepat penurunan kasus melalui koordinasi lintas sektor.
“Dengan adanya tim percepatan penurunan tuberkulosis di Kota Bogor, ini sebagai langkah, ikhtiar, serta komitmen Pemkot Bogor untuk menuntaskan penyakit TBC dengan berbagai aksi daerah yang sudah berjalan,” ujarnya saat membuka kegiatan Pembahasan Rencana Aksi Daerah (RAD) Tuberkulosis dan TP2TB Kota Bogor di Balai Kota, Selasa 18 November 2025, kemarin.
Jenal menjelaskan, aparat wilayah termasuk puskesmas telah berkomitmen melakukan identifikasi terhadap seluruh warga, terutama mereka yang berpotensi terpapar TBC.
Karena itu, TP2TB tidak hanya bekerja di level kota, tetapi juga diteruskan hingga tingkat kelurahan, RT, RW, dan melibatkan tokoh masyarakat.
“Karena kalau dibiarkan, akan semakin parah dan biaya pengobatan pun akan semakin sulit dan mahal. Yang paling parah, penyakit ini dapat menular ke warga lainnya. Maka pencegahan saya rasa mutlak harus dikedepankan,” tegasnya.
Selain memperkuat deteksi dini dan pencegahan, Jenal juga menyoroti pentingnya dukungan pendampingan psikologis bagi para penderita.
Menurutnya, banyak pasien mengalami tekanan mental selama menjalani pengobatan.“Nanti Dinkes bisa bekerja sama dengan psikolog untuk memberikan edukasi dan semangat kembali kepada orang yang terkena TBC. Insyaallah ikhtiarnya lancar,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno, menegaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bogor berkomitmen penuh mendukung target nasional eliminasi TBC tahun 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Sebagai langkah strategis, Pemkot Bogor melalui Dinkes telah menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Eliminasi TBC Kota Bogor Tahun 2025–2029.
Dokumen tersebut menjadi pedoman bersama bagi seluruh perangkat daerah dan fasilitas kesehatan dalam menjalankan program percepatan penanganan TBC. “Proses penyusunan RAD dilakukan secara partisipatif melalui berbagai pertemuan yang melibatkan lintas program di Dinas Kesehatan, lintas sektor di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, organisasi masyarakat, akademisi, serta mitra pembangunan,” jelas Retno.
Dokumen tersebut juga telah melalui tahap harmonisasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi Jawa Barat untuk memastikan kesesuaian substansi dan tata naskah hukum.
Selain RAD, pembentukan TP2TB melalui Keputusan Wali Kota Bogor (Kepwal) menjadi langkah penting memperkuat koordinasi lintas sektor. Setiap unsur dalam TP2TB memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan langkah-langkah percepatan penanggulangan TBC di wilayah masing-masing.
Retno menambahkan bahwa saat ini camat dan lurah di Kota Bogor sudah memiliki akses ke Sistem Informasi SIGEULIS, yang menampilkan jumlah dan sebaran kasus TBC secara real-time. Sistem ini diharapkan mempermudah proses pemantauan, tindak lanjut, dan pengambilan keputusan di tingkat wilayah.
“Sehingga dengan adanya sistem ini, diharapkan proses pemantauan, tindak lanjut, dan pengambilan keputusan di tingkat kelurahan dan kecamatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” tutupnya. (Nicko)

