Berita UtamaSosok

Edy Antoro : Sekarang Petani Sekaligus Pengusaha, Tak Lagi Tergantung Tengkulak

×

Edy Antoro : Sekarang Petani Sekaligus Pengusaha, Tak Lagi Tergantung Tengkulak

Sebarkan artikel ini
Edy Antoro
Founder Kusuma Agrowisata Kota Batu, Edy Antoro

KITAINDONESIASATU.COM – Praktisi pertanian perintis agrowisata Indonesia terkemuka asal Kota Batu, Edy Antoro mengatakan saat ini terjadi perubahan signifikan dalam pola kehidupan petani.

Para petani sekarang tidak lagi tergantung kepada tengkulak dalam menjual hasil budidaya pertaniannya, yang merupakan kemajuan luar biasa.

Dalam podcast YouTube channel Ladon Entertainment Indonesia bertajuk Sam Handy 34 – Edy Antoro “Sang Arjuno Pecinta Alam” yang dirilis, Rabu, 5 November 2025. Video ini sudah ditonton 13 ribu.

Edy Antoro (EA), 67 tahun seorang founder Kusuma Agrowisata Kota Batu, yang merintis agrowisata sejak tahun 1988 membeberkan pengalamannya yang merintis dengan dimulai wisata petik apel.

Kemudian disusul wisata petik strawberry dan terus berkembang ke hingga banyak usaha seperti perhotelan, real estat, industri minuman, budidaya pertanian agroponik dan masih banyak lagi.

Dia termasuk startup yang sukses, dengan filosofi berbisnis dan berbuat baik EA dinilai telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan agrowisata di Indonesia, hususnya di Kota Batu.

Dia menjadi inspirasi masyarakat Batu dalam pengembangan agrowisata. Istilah populernya, ikon Kota Wisata untuk Kota Batu tak bisa dipisahkan dengan EA.

Untuk itulah Kementerian Koordinator Pembangunanan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memberikan penghargaan Anugerah Revolusi Mental tahun 2022.

Menurut EA, petani sekarang jauh lebih maju dibanding pada jamannya. “Petani sekarang berani. Pendidikannya lebih baik sehingga akalnya lebih banyak. Kalau dulu petani itu mengandalkan otot,” katanya.

Keberanian dan kemajuan mereka ditunjukkan dengan berani menjual hasil budidaya tanpa melalui tengkulak.

“Mereka angkut sendiri ke pasar, jual sendiri. Kalau saya ke Surabaya lewat tol disalib mobil mengangkut sayur. Dan itu banyak. Mereka itu para petani. Jadi sekarang mereka petani sekaligus pengusaha. Mereka kaya-kaya, “ujar ayah 3 anak buah pernikahannya dengan Ny Susan Antoro ini.

Lepas dari tengkulak inilah yang menginspirasi EA melakukan transformasi agrowisata. Dalam buku “Republik Agro Perjalanan Hidup Edy Antoro” yang terbit tahun 2014.

Disebutkan, saat menjual hasil panen apelnya EA merasa ngenas karena harganya sangat murah tak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk budidaya apel.

Rendahnya harga itu karena posisi tawarnya di hadapan tengkulak sangat lemah, akhirnya melahirkan ide menjual produknya dalam kemasan wisata petik apel.

Turis datang untuk memetik apel, dekade 1990 sampai awal tahun 2000-an jadi boming, dan wisata petik apel jadi ikonik Kota Batu.

Ternyata keuntungannya jauh lebih besar dibanding dijual secara konvensional. Adapun buah apel yang kecil-kecil sisa petik dibuat minuman sari apel yang tetap eksis hingga sekarang.

EA yakin dengan perubahan ini, kehidupan petani di masa mendatang akan semakin baik. Kebutuhan sayur yang sehat semakin meningkat.

Yang menjadi tantangan, katanya, adalah meningkatkan daya saing termasuk dengan supermarket.

Ditanya tentang budidaya apel di wilayah Kota Batu sekarang, EA mengakui sangat berat akibat perubahan iklim.

Dia contohkan, tahun 1980-an apel bisa dibudidayakan di ketinggian 450 m dpl seperti di daerah Beji.

Sekarang di ketinggian 1050 Mdpl seperti di kawasan Kusuma Agrowisata sangat berat. Sekarang harus di ketinggian 1.300 Mdpl.

Apalagi budidaya apel itu biaya tinggi. Petani kecil cukup keberatan. Apalagi lahan-lahan mereka semakin sempit karena proses involusi pertanian akibat sistem pewarisan. (ANO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *