KITAINDONESIASATU.COM – Di bawah Ruben Amorim, Manchester United (MU) mulai menemukan pola permainannya hingga berhasil memenangu dua laga beruntun.
Dua kemenangan beruntun yang dialami MU masing-masing saat melawan Sunderland pada pekan ke-7 dengan skor 2-0 kemudian kemenangan kedua pada pekan ke-8 mengalahkan Liverpool (1-2) dalam laga tandang Senin, 20 Oktober 2025.
Berdasarkan statistik, kemenangan kedua MU melawan Liverpool memperlihatkan tren MU mengikuti gaya permainan beberapa tim di Liga Premier yang memanfaatkan umpan-umpan panjang dalam menciptakan peluang emas.
Data baru memperlihatkan MU tim paling banyak memainkan bola panjang selama berlaga di Liga Primer musim ini.
Fakta ini merupakan gaya permainan mengejutkan di era sepakbola modern yang menekankan kontrol dan membangun serangan dari belakang.
Roben Amorim, Setan Merah sepertinya mengikuti tren permainan gaya tim pemuncak klasemen Arsenal, Bournemounth atau Everton di bawah asuhan Sean Dyche.
Seperti data yang dipublikasikan tim Old Trafford (MU) telah menghasilkan 466 umpan jarak jauh pada musim ini, yang merupakan jumlah tertinggi di antara 20 tim di Liga Inggris.
Jumlah ini melampaui Wolves 464 dan tim raksasa Inggris Man City dengan 307, Arsenal 350 hingga Liverpool 366 semuanya berada di bawah MU.
Dengan gaya bermain MU seperti ini dinilai merupakan disamakan dengan gaya permainan sepakbola Wimbledon era 80-an dan 90-an yang dijuluki dengan Geng Gila.
Faya permainan ini terkenal dengan gaya bermain yang tangguh, dengan umpan panjang dan fisik yang mumpuni menjadi kunci permainan dengan gaya ini.
Setan merah di bawah kepemimpinan Ruben Amorin bukan lagi tim yang mendominasi bola atau pengoper yang mulus seperti diharapkan banyak penggemarnya di Inggris.
Akan tetapi mereka bermain sederhana, langsung dan mengutamakan serangan balik yang cepat, namun menyebabkan tim ini terus terpuruk sejak kompetisi musim ini hingga kini berada di peringkat ke-9 klasemen sementara.
Kiper muda Senne Lammens menjadi kunci perubahan taktik MU saat ini, sejak dia menggantikan Altay Bayindir pemain Belgia ini dengan cepat membuat perbedaan dengan umpan-umpan panjangnya yang kondisten.
Melawan Liverpool ia menyelesaikan 9 dari 46 umpang sebagian besar berupa umpan panjang dalam fase build-up, hal ini terjadi tidak hanya dalam pertandingan akabar di Anfield saja.
Sebelumnya saat melawan Sunderland (2-0), Lammens juga menyelesaikan 17 dari 44 operan, tentu ini bukan solusi situasional melainkan diniatkan sebagai taktis yang jelas dari cara Amorin.
Kemudian sebelum pertandingan melawan Liverpool pelatih asal Portugal ini mengatakan jika dia memiliki pemain-pemain yang kuat di lini depan.
Menurut Ruben, jika mereka memenangkan bola kedua dia yakin dan mampu melewati seluruh proses dalam penguasaan bola ia yakin dapat menciptakan peluang hingga mencetak gol.
Meskipun gaya permainan ini dianggap kurang etis, namun menjadi senjata efektif Manchester United dalam mengalahkan Liverpool di Anfield dalam laga kemarin.
Di sisi lain MU juga mulai memperlihatkan tanda-tanda stabilitas karena mengincar kemenangan demi kemenangan hingga kemenangan yang ketiga jika mengalahkan Brighton pada kepan berikutnya.
Meski demikian tidak semua orang yakin akan kebangkitan Setan Merah ini dalam mengarung pertandingan di Liga Inggris, seperti diungkapkan mantan bek Jamie Carragher.
“Saya rasa sistem 3-4-3 ini tidak cocok untuk Manchester United. Sistem ini tidak membantu memaksakan permainan atau mendorong skuad. Namun, ketika mereka menjadi tim yang tidak diunggulkan, sistem ini sangat sulit ditembus, terutama ketika mereka dengan pertahanan 5 pemain bertahan.”
Disebutkan oleh Carragher jika Amorin dapat meraih hasil yang baik dipertandingan-pertandingan besar seperti ketika mengalahkan Man City atau Arsenal tetapi dalam jangka panjang permainan ini akan lambat perkembangan serangan tim.
Meski begitu Amorim tetap teguh dengan filosofisnya jika Man United sedang menulis ulang sejarah dengan taktik sendiri guna mencapai kejayaan seperti sebelumnya.
Taktik yang diterapkan mungkin tidak indah, tetapi menurut Ruben Amorin hal ini sagat efektif, terkadang dalam dunia sepakbola yang pragmatis, kemenangan masih menjadi kriteria utama. **

