KITAINDONESIASATU.COM – Para ilmuwan di Universitas McGill Kanada baru saja mengumumkan alat kecerdasan buatan (AI) yang disebut Dolphin.
Alat ini diketahui mampu mendeteksi ratusan penanda gejala kanker tak terlihat yang terlewatkan oleh metode tradisional.
Dolphin diterapkan pada data sel tunggal dari pasien kanker pankreas, hasilnya menunjukkan bahwa sistem mendeteksi lebih dari 800 penanda genetik baru dan mengklasifikasikan pasien ke dalam kelompok berisiko tinggi terhadap progresi dan kelompok dengan penyakit yang kurang parah.
“Temuan ini dapat membantu dokter menentukan pilihan pengobatan yang lebih tepat, daripada harus mencoba beberapa pilihan.”
Terobosan Dolphin terletak pada pendekatannya. Alih-alih hanya menghitung salinan DNA (RNA) pada tingkat gen utuh seperti yang dilakukan teknik tradisional, alat AI ini mengamati bagian-bagian kecil penyusun gen (ekson) dan bagaimana mereka saling terhubung.
Tingkat detail inilah yang membantu mengungkap variasi yang sangat kecil namun signifikan secara patologis yang seringkali terlewatkan oleh metode saat ini.
“Ini adalah demonstrasi bahwa ketika kita menganalisis data pada resolusi yang lebih tinggi, akan muncul informasi yang benar-benar baru yang memiliki nilai praktis dalam bidang kedokteran,” kata Profesor Hani Goodarzi, seorang ahli biologi komputasional di Universitas California, dikutip oleh ScienceDaily.
Selain mendeteksi penanda kanker, DOLPHIN juga membuka jalan bagi ambisi membangun model sel virtual di masa depan.
Ketika diterapkan pada jutaan sel, sistem ini dapat mensimulasikan respons sel terhadap obat, membantu mempersingkat proses pengujian dan secara signifikan mengurangi biaya pengembangan obat.
Secara keseluruhan, Dolphin merupakan bukti tren AI yang mengubah dunia kesehatan secara global.
Sistem AI telah diuji di berbagai bidang: mulai dari menganalisis sinar-X dan MRI, hingga memprediksi mutasi gen dan mendeteksi kanker melalui tes darah.
Contoh yang menonjol adalah alat AlphaMissense dari Google DeepMind, yang dapat memprediksi tingkat keparahan mutasi gen.
Sementara itu, banyak kelompok penelitian di AS dan Eropa telah menunjukkan bahwa AI dapat menganalisis citra histopatologi untuk memprediksi prognosis pasien.
Mengomentari penemuan Dolphin, situs informasi penelitian Bioengineer.org mengatakan AI tidak menggantikan dokter, tetapi dapat menjadi alat pendukung yang ampuh untuk membantu membuat keputusan lebih cepat dan lebih akurat.
Namun, sebelum teknologi seperti Dolphin menjadi standar dalam praktik medis, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Pertama, uji klinis skala besar diperlukan untuk memverifikasi keandalan dan stabilitas pada berbagai kelompok pasien.
Studi yang dipublikasikan di Nature Communications ini juga mengakui bahwa Dolphin hanya diuji pada data sel tunggal.
Artinya, hasil awalnya menjanjikan, tetapi belum cukup untuk langsung diterapkan pada semua pasien kanker.
Kendala lainnya terletak pada penjelasan cara kerja model pembelajaran mendalam. AI tidak sepenuhnya dipercaya oleh para ilmuwan karena dapat menghasilkan hasil, tetapi kesulitan menjelaskan proses komputasinya. Menurut ScienceDaily, kurangnya transparansi ini dapat memperlambat proses penerapan klinis.
Selain itu, infrastruktur data juga memiliki tuntutan yang sangat tinggi. Sistem AI membutuhkan data dalam jumlah besar yang dikumpulkan dari berbagai negara dan kelompok populasi.
McGill juga menekankan dalam siaran pers bahwa model hanya dapat menghasilkan hasil yang akurat dan adil jika data cukup beragam dalam hal ras, usia, dan jenis penyakit.
Namun, para ahli mengatakan Dolphin merupakan langkah maju yang signifikan dalam perjalanan penerapan AI di bidang kedokteran.
“Kemampuan untuk mendeteksi penanda kanker baru pada tingkat sel tunggal akan membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk penelitian dan pengobatan penyakit,” tegas tim penulis McGill. **





