KITAINDONESIASATU.COM – Perusahaan Umum (perum) Bulog menyatakan produksi beras global tengah mengalami tantangan signifikan. Hal itu disebabkan dari perubahan iklim yang terjadi saat ini dan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dan Rusia.
Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Bulog, Sonya Mamoriska Harahap mengatakan, salah satu tantangan utama yang saat ini dihadapi oleh produksi beras global adalah perubahan iklim. Ini terlihat dari cuaca tak menentu, kenaikan suhu, dan cuaca ekstrem berdampak pada hasil panen padi dunia.
“Perubahan ini tak hanya mengganggu musim tanam, tetapi juga memperburuk kelangkaan air yang jadi sumber daya penting untuk menanam padi,” kata Sonya yang dikutip di acara Indonesia International Rice Conference (IIRC) 2024 Jumat (20/9).
Selain iklim, kata Sonya, produksi beras juga berhadapan dengan ancaman biologis yang datang dari hama tanaman. Ia mengatakan hama, penyakit, dan spesies invasif yang mengganggu tanaman padi semakin sulit dikelola. “Ini menambah beban bagi petani yang sudah menghadapi kompleksitas perubahan iklim,” ujarnya.
Sonya menambahkan, kebutuhan pangan masyarakat global juga dihantui ketegangan dan konflik geopolitik yang melanda beberapa belahan dunia belakangan ini, seperti di Timur Tengah dan Rusia. Konflik itu pun pastinya mengganggu stabilitas pasar dan harga beras.
“Mengganggu jalur produksi dan distribusi. Akibatnya, jutaan orang yang bergantung pada beras sebagai makanan pokok menghadapi kerentanan yang lebih besar terhadap kerawanan pangan,” ujar dia.
Dengan masalah-masalah yang terjadi saat ini, sambung Sonya, pastinya bisa mengancam stabilitas dan keamanan beras. Apalagi selama ini beras merupakan salah satu bahan makanan pokok yang selama ini dikonsumsi.
“Kita sedang menghadapi masa penuh tantangan yang mengancam stabilitas dan keamanan tanaman pangan penting ini. Saat ini, produksi padi dihadapkan pada serangkaian masalah yang berdampak luas pada masyarakat lokal dan sistem pangan global,” ujar
Karena itu, lanjut Sonya, perlu pendekatan yang tangguh dan adaptif terhadap produksi beras. Menurutnya, dunia harus mulai menyadari bahwa metode pertanian dan distribusi tradisional mungkin tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang. (*)


