KITAINDONESIASATU.COM– Ribuan ton sampah sisa banjir menumpuk di berbagai titik di Bali dan berpotensi memicu penyakit menular hingga banjir susulan. Menyikapi kondisi darurat tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) bersama Pemerintah Provinsi Bali menggelar aksi besar-besaran “Bersih Sampah Pascabanjir”, Sabtu 13 September 2025.
Aksi yang dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, komunitas masyarakat, BUMN hingga sektor swasta ini melibatkan lebih dari 1.200 peserta. Mereka serentak membersihkan timbunan sampah dari saluran air hingga kawasan padat penduduk.
Hanif Faisol mengungkapkan, volume sampah akibat banjir diperkirakan mencapai ratusan ton dalam beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut, menurutnya, hanya bisa ditangani melalui kerja sama lintas pihak agar tidak menimbulkan persoalan kesehatan maupun risiko bencana lanjutan.
“Selama paling lama satu bulan, seluruh sampah akibat bencana ini akan diangkut ke TPA Suwung untuk ditangani secara darurat,” jelas Hanif, dalam keterangan tertulis, Senin, 15 September 2025.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penanganan sampah harus dibarengi dengan pemulihan daya dukung lingkungan, terutama dengan memperkuat kembali tutupan hutan di wilayah hulu.
“Dibutuhkan sekitar 14 ribu hektare untuk mengembalikan kemampuan alam Bali menghadapi perubahan iklim yang semakin dramatis,” ujarnya.
Selain bersih-bersih, KLH bersama PLN Indonesia Power juga menyalurkan 350 paket bantuan sosial berupa sembako bagi pedagang Pasar Badung/Kumbasari dan masyarakat terdampak banjir.
“Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa pemulihan lingkungan harus berjalan beriringan dengan pemulihan sosial dan kesejahteraan masyarakat,” kata Hanif.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem sungai sebagai sumber air utama, serta menegaskan perlunya penataan ruang yang berkelanjutan.
