Inovasi

Racun Kalajengking Dianggap Obat, Pakar IPB; Potensinya Ada, Risikonya Jauh Lebih Besar

×

Racun Kalajengking Dianggap Obat, Pakar IPB; Potensinya Ada, Risikonya Jauh Lebih Besar

Sebarkan artikel ini
kalajengking
Kalajengking, hewan berbisa yang racunnya tengah diteliti potensinya dalam dunia medis. Namun, konsumsi secara langsung sangat tidak dianjurkan karena bisa memicu keracunan. (KIS/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Di tengah maraknya anggapan sebagian masyarakat Indonesia yang memanfaatkan kalajengking sebagai obat, pakar kesehatan dari IPB University mengingatkan adanya bahaya besar di balik racun hewan berbisa tersebut.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, menegaskan bahwa meski penelitian modern menunjukkan racun kalajengking memiliki zat aktif dengan potensi medis, penggunaannya secara sembarangan justru bisa mengancam keselamatan.

“Dalam beberapa penelitian modern, racun kalajengking memang ditemukan mengandung zat aktif yang dapat memengaruhi saluran ion dalam sel saraf dan otot. Efeknya meliputi pereda nyeri, antikejang, hingga potensi antikanker,” jelas dr Widya, dalam keterangan tertulis, 11 September 2025.

Ia menjelaskan, dalam literatur pengobatan tradisional Tiongkok, spesies Chinese scorpion (Buthus martensii Karsch) telah digunakan selama lebih dari seribu tahun untuk mengatasi penyakit seperti stroke, epilepsi, dan rematik. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan kalajengking di Indonesia.

“Spesies kalajengking di Indonesia umumnya berasal dari kelompok Heterometrus, yang berbeda dengan spesies yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Bukti ilmiah penggunaan kalajengking lokal masih sangat terbatas dan baru berada pada tahap penelitian laboratorium,” terangnya.

Kalajengking diketahui menghasilkan racun yang terdiri dari berbagai protein dan peptida. Zat ini bekerja pada saluran listrik alami tubuh, seperti ion natrium, kalium, dan kalsium, yang berperan penting dalam fungsi saraf, otot, dan sistem imun.

“Penelitian dari Sigilipu tahun 2022 menunjukkan bahwa peptida dari kalajengking Indonesia dapat menghambat saluran kalium yang berhubungan dengan aktivasi sel imun, dan ini mungkin bermanfaat bagi penyakit autoimun seperti lupus,” tambah dr Widya.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi kalajengking secara langsung. Racunnya bisa menimbulkan nyeri hebat, pembengkakan, gangguan saraf, hingga masalah serius pada jantung dan pernapasan.

“Respons tubuh terhadap racun sangat tergantung pada jumlah dan jenis spesiesnya. Tetapi secara umum, risiko keracunan jauh lebih besar dibandingkan potensi manfaatnya jika dikonsumsi tanpa pengolahan ilmiah,” tegasnya.

Menurutnya, penelitian ilmiah untuk memanfaatkan racun kalajengking sebagai obat membutuhkan proses panjang, mulai dari uji laboratorium, uji hewan, hingga uji klinis pada manusia.

“Sebagai akademisi, kami menyarankan masyarakat untuk tidak menggunakan kalajengking sebagai obat secara sembarangan. Potensinya memang ada, tapi masih dalam tahap awal penelitian dan belum terbukti aman bagi manusia,” pungkas dr Widya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *