KITAINDONESIASATU.COM – Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), Benny Suryo Sabath Hutapea, mengungkapkan melemahnya kondisi industri sarang burung walet di Indonesia. Padahal, bisnis liur walet ini memiliki sejarah panjang sejak abad ke-17 dan pernah menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar internasional.
Benny Hutapea, sapaan akrabnya, menceritakan catatan sejarah ketika armada pelaut Tiongkok pimpinan Laksamana Zheng He menemukan sarang burung walet di sebuah goa. Kala itu, karena kelaparan akibat badai topan, para pelaut mengolah sarang walet menjadi sup.
“Sejak saat itu diketahui khasiatnya yang dapat menambah stamina dan daya tahan tubuh,” kata Benny, dalam rilisnya Sabtu (23/8/2025).
Popularitas sarang burung walet kemudian meluas di lingkungan kerajaan Tiongkok dan menjadi hadiah berharga untuk Dinasti Ming. Pada masa modern, terutama tahun 1960–2019, harga jual sarang walet bahkan bisa mencapai Rp40 juta per kilogram.
Indonesia Penghasil Terbesar
Menurut Benny, saat ini Indonesia merupakan produsen terbesar sarang burung walet di dunia. Ratusan ribu rumah walet tersebar di seluruh daerah, dengan jutaan petani yang menggantungkan hidup dari usaha ini. Produk sarang walet diekspor ke berbagai negara, termasuk Tiongkok, Hongkong, Singapura, Amerika Serikat, Australia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Kanada, Jepang, dan Korea.
“Presiden Jokowi pada 4 Mei 2021 bahkan menggelar rapat terbatas khusus membahas sarang burung walet. Kemudian pada 27 Juli 2023, Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping menandatangani kerja sama ekspor walet Indonesia–Cina,” kata Benny.
Harga Anjlok, Ekspor Tersendat
Namun, kondisi industri saat ini tengah menghadapi krisis. Harga sarang walet anjlok hingga Rp2,5 juta per kilogram, jauh dari harga sebelumnya. Selain itu, perusahaan pengolahan sarang walet di Indonesia mendapat hambatan ekspor akibat sanksi dari General Administration of Customs China (GACC).
“Regulasi dari pemerintah Cina ini membuat banyak perusahaan tidak bisa mengirim produk. Dampaknya, puluhan ribu pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujar Benny.



