Sosok

Fakta Menarik Try Sutrisno, Sosok Militer Loyal di Panggung Politik Nasional

×

Fakta Menarik Try Sutrisno, Sosok Militer Loyal di Panggung Politik Nasional

Sebarkan artikel ini
Try Sutrisno

KITAINDONESIASATU.COM – Try Sutrisno adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia modern. Dari seorang anak sopir ambulans di Surabaya, ia meniti karier militer hingga puncaknya menjabat sebagai Panglima ABRI dan kemudian Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6. Kisah hidupnya adalah cermin ketekunan, disiplin, dan dedikasi terhadap negara.

Profil Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur, saat Indonesia masih berada di bawah Hindia Belanda. Ia merupakan putra dari Subandi, seorang sopir ambulans, dan Mardiyah, ibu rumah tangga. Kehidupan keluarga mereka sederhana, bahkan pada masa revolusi kemerdekaan, mereka sempat pindah ke Mojokerto.

Masa kecil Try diwarnai perjuangan ekonomi. Ia membantu keluarga dengan berjualan koran dan rokok, serta sempat menjadi kurir militer di tengah situasi perang. Pengalaman ini kelak membentuk karakter disiplin dan rasa tanggung jawab yang kuat dalam dirinya.

Pendidikan dan Awal Karier Try Sutrisno

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Try Sutrisno memutuskan untuk masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) di Bandung. Ia lulus pada tahun 1959 dan mulai meniti karier di tubuh militer.

Di awal masa dinasnya, Try terlibat dalam berbagai operasi penting, termasuk penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta dan operasi di Aceh. Keuletannya membuatnya dipercaya menduduki posisi strategis di Angkatan Darat.

Tahun 1986, Try Sutrisno diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dua tahun kemudian, pada 1988, ia dipercaya Presiden Soeharto untuk memegang jabatan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), menggantikan Jenderal Benny Moerdani.

Sebagai Panglima ABRI, Try dikenal tegas dan menjunjung tinggi disiplin. Ia memimpin pasukan dalam situasi kritis, termasuk operasi di Timor Timur. Namun, masa jabatannya juga diwarnai kontroversi, seperti insiden Santa Cruz pada 12 November 1991, di mana ratusan demonstran tewas. Pernyataannya yang keras terhadap para demonstran saat itu memicu kritik dari dunia internasional.

Pada 11 Maret 1993, Try Sutrisno dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto. Menariknya, pencalonan Try sebagai wapres kala itu lebih didorong oleh dukungan kuat dari fraksi ABRI di MPR ketimbang keinginan pribadi Soeharto.

Masa jabatannya sebagai wapres berlangsung hingga 11 Maret 1998. Try dikenal sebagai sosok yang tidak ambisius dan menjunjung integritas. Ia tidak segan mengkritisi kebijakan yang dinilai tidak sesuai prinsip, meskipun hal ini membuat hubungannya dengan Presiden Soeharto menjadi kurang harmonis. Bahkan, ia jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, termasuk pembentukan kabinet.

Menjelang runtuhnya Orde Baru pada Mei 1998, Indonesia menghadapi krisis ekonomi, kerusuhan sosial, dan tekanan politik yang semakin besar. Try Sutrisno, bersama sejumlah tokoh nasional, menemui Soeharto untuk membahas langkah penyelamatan bangsa. Namun, gelombang reformasi tidak terbendung, dan pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri.

Setelah meninggalkan jabatan wapres, Try tetap aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan politik. Ia menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) hingga 2003. Perannya di Pepabri fokus pada membangun solidaritas di antara para purnawirawan dan memberikan masukan bagi kebijakan pertahanan negara.

Pada 2005, Try turut mendirikan Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu, sebuah gerakan yang menentang beberapa kebijakan pemerintah saat itu, seperti kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan kenaikan harga BBM. Namun setelah bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla, Try melunak dan memahami alasan di balik kebijakan tersebut.

Bagi banyak pihak, Try Sutrisno adalah representasi perwira tinggi yang loyal dan tidak tergoda kekuasaan. Meski sempat terlibat kontroversi, kiprahnya di dunia militer dan politik tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Kehidupannya memberi pelajaran bahwa keteguhan prinsip dan kesetiaan pada bangsa dapat menjadi modal utama untuk berkontribusi bagi negara. Dari seorang anak keluarga sederhana, Try membuktikan bahwa kerja keras dan disiplin mampu mengantarkan seseorang hingga ke posisi puncak pemerintahan.

Perjalanan hidup Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno adalah cerita inspiratif tentang perjuangan, integritas, dan pengabdian. Ia meniti jalan dari kehidupan sederhana di Surabaya hingga menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia pada masanya.

Dalam era di mana politik sering kali diwarnai intrik dan kepentingan pribadi, sosok seperti Try Sutrisno mengingatkan kita bahwa nilai-nilai kesederhanaan, disiplin, dan kesetiaan pada negara tetap relevan untuk diteladani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *