KITAINDONESIASATU.COM – Di zaman serba terbuka ini, banyak orang merasa bebas menceritakan kesulitannya kepada siapa saja. Media sosial menjadi tempat pelampiasan duka dan keluhan hidup. Tapi tahukah kamu? Dalam pandangan para ulama salaf, mengeluh kepada sesama manusia bisa jadi tanda bahwa kita sedang tidak ridha atas takdir Allah.
Mengutip laman NU Online, Imam Al-Junaid pernah berkata, مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ
Artinya “Barangsiapa yang mengadukan sempitnya hidup kepada manusia, seolah-olah ia sedang mengadukan Allah kepada makhluk-Nya. Dan barangsiapa bersedih atas urusan dunia, maka ia telah marah kepada Allah.” (Kitab Riyadhul Akhlaqis Shalihin, hal. 32)
Kalimat ini sungguh mengguncang hati. Kita mungkin merasa keluhan itu wajar, tapi dalam kaca mata iman, keluhan yang salah tempat bisa jadi bentuk ketidakpuasan atas kehendak Allah.
Lantas harus ke mana kita membawa kegelisahan hidup? Jawabannya hanya satu, bermunajat. Seorang mukmin sejati tahu bahwa tempat terbaik untuk mencurahkan kesedihan adalah sajadah di tengah malam. Tangisan di sepertiga malam, doa dalam kesunyian, itulah yang paling mulia. Nabi Musa ‘alaihissalam saja, ketika diuji, bermunajat dengan doa:
اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Artinya: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Kepada-Mu aku mengadu. Engkau tempat aku meminta pertolongan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu, ya Allah.” (HR Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, no. 3505)
Shalat Tahajud adalah waktu terbaik untuk mengadu. Di saat manusia terlelap, langit terbuka untuk doa-doa yang jujur dan air mata yang tulus.
Tapi bukan berarti kita dilarang untuk bercerita kepada sesama manusia. Islam mengajarkan saling tolong-menolong, saling menasihati. Curhat diperbolehkan selama tujuannya untuk mencari solusi, bukan sekadar mengeluh atau memprotes takdir. Beda antara curhat untuk mencari nasihat dengan curhat yang mengarah pada “ngrasani” Allah. (*)

