Lifestyle

Mengenal Desa Baduy: Harmoni Alam dan Budaya Tanpa Teknologi

×

Mengenal Desa Baduy: Harmoni Alam dan Budaya Tanpa Teknologi

Sebarkan artikel ini
DESA BADUY
Desa Baduy.

KITAINDONESIASATU.COM – Salah satu destinasi wisata menarik di Banten adalah Desa Baduy, sebuah permukiman adat yang terletak di Desa Cibeo, Kabupaten Lebak, sekitar 40 km dari Rangkasbitung.

Dikenal karena keterasingannya dari dunia modern, masyarakat Baduy hidup dengan teguh menjaga budaya dan adat istiadat leluhur mereka, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Desa ini terletak di tengah kawasan hutan yang rimbun dan dikelilingi oleh pepohonan tinggi, menciptakan suasana yang tenang dan menyegarkan.

Rumah-rumah warga dibangun dari kayu dan bambu, menciptakan kesan alami dan menyatu dengan alam.

Baca Juga  Bahaya Hubbud Dunya, Berikut Ciri-cirinya

Tidak ada jalan beraspal, hanya jalur tanah dan semak belukar di sekitar permukiman yang menambah kesan sakral dan tenang.

Hal yang membuat Desa Baduy sangat unik adalah kehidupan masyarakatnya, dikenal sebagai Suku Baduy atau orang Kenekes.

Mereka hidup tanpa teknologi modern, menolak penggunaan kendaraan, bahkan tidak memakai alas kaki atau pakaian modern.

Semua ini dilakukan sebagai bagian dari prinsip hidup mereka yang selaras dengan alam dan tradisi.

Menariknya, setiap rumah di desa ini dibangun dengan aturan khusus, salah satunya adalah posisi pintu yang wajib menghadap ke arah utara atau selatan.

Baca Juga  Menjelajahi Pulau Rote: Harmoni Alam, Sejarah dan Tradisi

Namun, aturan ini tidak berlaku untuk rumah milik pemimpin adat yang dikenal dengan sebutan Pu’un.

Meski sangat menjaga adat, masyarakat Baduy tetap terbuka dan ramah terhadap pengunjung.

Bagi wisatawan, disarankan menyewa pemandu lokal untuk membantu komunikasi.

Anda juga bisa mencicipi kuliner khas seperti Kue Balok, Apem Putih, dan Otak-Otak Labuan.

Jika ingin merasakan pengalaman lebih mendalam, menginap di rumah warga setempat adalah pilihan menarik.

Untuk mencapai Desa Baduy, perjalanan dimulai dari Kabupaten Lebak dan dilanjutkan menuju Desa Cibeo, dengan rute terakhir ditempuh dengan berjalan kaki karena kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke wilayah adat.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *