News

Audio Sound Horeg Mencapai 130 Desibel, Jika Mendengarkan Dalam Waktu Lama Bisa Berakibat Tuli Permanen

×

Audio Sound Horeg Mencapai 130 Desibel, Jika Mendengarkan Dalam Waktu Lama Bisa Berakibat Tuli Permanen

Sebarkan artikel ini
sound horeg 1
Ilustrasi Sound Horeg dalam sebuah acara dan getarannya bisa merontokan genteng rumah dan memecah kaca cendela. foto: tangkapan layar

KITAINDONESIASATU.COM – Sound Horeg menjadi prokontra keberadaannya di tengah-tengah masyarakat di sekitar wilayah Malang Raya hingga mendapat peringatan keras melalui Fatwa Haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Sound horeg sendiri sangat populer di Indonesia untuk menyebut sistem audio berdaya tinggi (biasanya dari mobil, truk, atau gerobak motor) yang memutar musik dengan volume sangat keras, bass mendalam, dan biasanya bertujuan menarik perhatian massa.

Kata horeg berasal dari plesetan kata horror dan bengong yang mencerminkan efek kejut atau kagum karena keras dan hebohnya suara hingga getarannya yang luar biasa, horeg juga berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergetar seperti ada gempa akibat suara keras itu.

Lalu sebera besar suara yang dihasil dari sound horeg ini? Dalam sebuah pawai di Desa Ploso, Kecamatan Selopura, Kabupaten Blitar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar dr Christine Indrawati mengungkapkan kekuatan sound horeg ini yang sangat tinggi mencapai 130 desibel (dB).

Tingginya suara yang dihasilkan dari sound horeg ini diungkapkan oleh dr Christine Indrawati seperti dilansir beritajatim.com ternyata memicu kekhawatiran serus terhadap kesehatan telinga bagi para pendengarnya.

Menurut dr Christin kemampuan pendengaran manusia yaitu sebesar 85 dB, sementara sound horeg kemampuan audionya melampau batas kemampuan telinga manusia, dengan paparan suara di atas itu.

Boleh dikatakan audio sound horeg yang dihasilkan melampau batas aman pendengaran manusia, jika terus didengarkan dalam kurun waktu lama dan terus menerus bisa berisiko tinggi menebabkan adanya gangguan pendengaran pemanen atau tuli.

Dikatakan dr Christine secara medis memang kemampuan telinga manusia hanya sampai 85 dB, kalau melebihi batas kemampuan maka akan ada potensi gangguan pendengaran.

Disebutkan pula oleh dr Christine semakin tinggi intensitas suara dan semakin lama pula telinga terpapar, maka akan berisiko terjadinya kerusakan organ pendengaran semakin besar, dan bisa saja hingga berujung pada tuli permanen.

Dijelaskan lebih mendetail oleh dr Christine jika ada tiga tulang di telinga manusia yakni tulang di telinga tengah yang rentan terhadap kerusakan jika terjadi getaran suara berlebihan.

Ketiga tulang itu adalah maleus atau tulang martil, incus atau tulang landasan dan stapes atau tulang sanggurdil, ketiganya membentuk rantai yang menyalurkan getaran suara dari gendang telinga ke telinga bagian dalam.

Getaran suara dengan tekanan tinggi dapat berpotensi merusak tiga bagian telinga jika terpapar suara terus menerus dan berujung potensi untuk tuli permanen dalam waktu yang lama.

Sehingga keberadaan sound horeg akan menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi masyarakat yang sering mendengarkan dalam jangka pendek terjadinya gangguan pendengaran ringan hingga sedang dan akan menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi mendapatkan gangguan pendengaran berat.

Dikatakan oleh dr Christine jika sampai tuli harus tetap dikonsultasikan ke dokter THT, namun dari hasil yang dideteksi, umumnya terjadinya penurunan pendengaran ringan hingga penurunan pendengaran sedang.

Kemudian dr Christine mencontohkan ada beberapa tenaga kesehatan yang terpapar bunyi alat medis yang cenderung di bawah 85 dB secara terus menerus dalam jangka panjang bisa menyebabkan risiko pendenganran, apalaga jika mendengarkan volume suara bertekanan dB yang tinggi.

Setidaknya jika mendengarkan lebih dari 4 jam dan dengan volume tinggi, itu bisa saja merusak tulang pendengaran manusia, sehingga perlu dihindari mendengarkan suara keras bertekanan tinggi dalam waktu yang lama karena bisa berdampak negatif bagi kesehatan dengar manusia.

Untuk itu Dinkes Blitar memberikan warning keras kepada masyarakat dan para penyelenggara acara dengan menggunakan sound horeg untuk memperhatikan standar volume suara, untuk menjaga kesehatan pendengaran dalam jangka panjang. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *