News

Sekolah Rakyat Kalsel Resmi Dibuka

×

Sekolah Rakyat Kalsel Resmi Dibuka

Sebarkan artikel ini
pmb
Ilustrasi penerimaan anak didik murid baru di sekolah (KIS/IST)

KITAINDONESIASATU.COM – Semangat tahun ajaran baru tak hanya terasa di sekolah-sekolah reguler. Di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarmasin, Banjarbaru, 125 anak dari keluarga rentan memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan harapan menulis babak baru dalam hidup mereka.

Sekolah Rakyat, yang kerap disebut sebagai “jalur alternatif” bagi anak-anak prasejahtera, menggelar MPLS hingga 24 Juli 2025. Meski sederhana, suasana di hari pertama, Selasa (15/7/2025), terasa istimewa. Wajah-wajah muda duduk berdampingan dengan orang tua mereka, mendengarkan pengarahan daring dari Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf.

“Mereka bukan sekadar murid, mereka adalah aset masa depan. Di sini karakter dan semangat mereka ditempa,” ujar Kepala BBPPKS Yadi Muchtar.

Tidak seperti MPLS di sekolah umum, kegiatan ini memadukan pengenalan lingkungan, pembentukan karakter, serta rangkaian pemeriksaan kesehatan yang ketat. Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 9, Rifki Hakim, menegaskan skrining fisik ini penting agar para peserta benar-benar siap secara jasmani.

“Tubuh mereka harus kuat untuk belajar, bertumbuh, dan berjuang,” kata Rifki.

Setiap peserta diperiksa mata, telinga, tekanan darah, status gizi, hingga tes darah dan kebugaran berupa lari 1,6 kilometer. Setelah lolos skrining, mereka dibagi dalam lima rombongan belajar: dua untuk SMP dan tiga untuk SMA.

Tanggung Jawab Negara

Program Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan tahun ini menampung total 225 siswa di dua lokasi, yakni BBPPKS Banjarmasin dan Sentra Budi Luhur. Meski angka ini masih jauh dari cukup untuk menjawab kebutuhan anak-anak marjinal, kehadirannya dianggap menegaskan tanggung jawab negara untuk memastikan akses pendidikan bagi semua.

Para pendamping di Sekolah Rakyat sadar benar, tantangan anak-anak ini bukan hanya di ruang kelas, melainkan juga di luar sekolah. Mayoritas berasal dari keluarga yang tak selalu mampu menyediakan makanan bergizi, apalagi akses belajar digital.

“Kami ingin mereka pulang tidak hanya bawa ijazah, tetapi juga karakter dan keterampilan hidup,” kata Yadi.

Di tengah keterbatasan, harapan itu pelan-pelan ditanamkan. Di sinilah, bagi 225 anak tersebut, bangku sekolah bukan sekadar bangku — melainkan tempat memupuk mimpi, menantang stigma, dan menegaskan bahwa anak miskin bukan sekadar angka dalam statistik kemiskinan. (Anang Fadhilah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *