Oleh; Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M
Rektor Universitas INABA Bandung
KITAINDONESIASATU.COM – DALAM era persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan tidak cukup hanya menawarkan produk atau jasa yang berkualitas. Konsumen masa kini mencari pengalaman, nilai, dan keterikatan emosional yang lebih dalam dengan brand yang mereka pilih. Buku “Connecting with Customers Through Storytelling: Build Emotional Connections and Drive Revenue” yang diterbitkan oleh Digital Word Tahun 2025, menekankan bahwa storytelling bukan sekadar alat pemasaran, tetapi strategi jangka panjang untuk membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan melalui hubungan emosional yang autentik.
Mengapa Storytelling
Storytelling efektif karena manusia secara naluriah terhubung dengan cerita. Otak manusia memproses cerita dengan cara yang berbeda dibandingkan fakta atau data mentah. Cerita memicu empati, memperkuat daya ingat, dan memengaruhi keputusan. Dalam konteks bisnis, cerita mampu menghidupkan nilai dan misi Perusahaan, membantu pelanggan melihat diri mereka dalam cerita brand, dan menciptakan asosiasi emosional yang memengaruhi preferensi dan loyalitas.
Dalam buku “Connecting with Customers Through Storytelling: Build Emotional Connections and Drive Revenue” dijelaskan bahwa strategi storytelling akan berhasil jika isi cerita di dalamnya terdiri dari tiga komponen utama, yaitu; Authenticity (Keaslian). Cerita harus jujur dan mencerminkan realitas brand, Relevance (Relevansi), Cerita harus selaras dengan nilai dan aspirasi audiens, dan Engagement (Keterlibatan). Cerita harus mengundang partisipasi dan resonansi emosional.
Kopi Kenangan berhasil membangun kedekatan emosional dengan pelanggan melalui storytelling yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Promosi Kopi Kenangan sering kali menampilkan kisah cinta yang gagal atau lucu, sesuai dengan nama brand. Cerita-cerita ini dikemas dalam bentuk konten media sosial dan kemasan produk yang relatable dan menyentuh. Pendekatan ini memperkuat loyalitas pelanggan dan mendorong pembelian berulang, terutama di kalangan anak muda urban.
Tokopedia menggunakan storytelling dalam berbagai kampanye besar seperti #MulaiAjaDulu, yang menampilkan kisah inspiratif para pelaku UMKM yang memulai bisnis dari nol. Cerita-cerita ini tidak hanya mempromosikan platform Tokopedia, tetapi juga menanamkan nilai keberanian dan ketekunan, yang secara emosional terhubung dengan banyak pengguna. Hasilnya, Tokopedia tidak hanya menjadi marketplace, tetapi simbol pemberdayaan ekonomi.


