KITAINDONESIASATU.COM – Beras SPHP tengah ramai diperbincangkan usai beredar video kondisi gudangnya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dalam video yang diunggah akun X (Twitter) @kenhans03 pada 12 Oktober 2025, terlihat proses pengemasan beras SPHP dilakukan secara manual oleh para pegawai yang sebagian besar merupakan ibu-ibu.
Namun, yang menjadi sorotan warganet adalah banyaknya beras SPHP yang tampak terinjak-injak saat proses pengemasan berlangsung. Hal ini menimbulkan kekhawatiran soal kebersihan dan standar distribusi pangan pemerintah.
Sebagai informasi, beras SPHP merupakan bagian dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang diluncurkan pemerintah pada 18 Juli 2025 di Kantor Pos Besar Fatmawati, Jakarta. Program ini bertujuan menjaga kestabilan harga beras dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Distribusi beras SPHP dilakukan melalui pedagang pengecer mitra Perum Bulog, seperti pasar rakyat, koperasi desa, outlet pangan murah, hingga jaringan BUMN seperti ID Food, PT Pos Indonesia, dan Perkebunan Nusantara. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Kementerian Pertanian juga turut terlibat dalam penyalurannya.
Beras SPHP dijual dengan harga terjangkau sesuai zona wilayah, yakni:
Zona 1: Rp12.500/kg
Zona 2: Rp13.100/kg
Zona 3: Rp13.500/kg
