ingat, suatu saat nanti, lisan akan terbungkam. Lisan yang selalu berdalih dengan sejuta alasan, tak bisa lagi berkata-kata. Semua kata yang dirangkai indah, tak berguna lagi.. Lisan tak mampu berargumentasi lagi. Lisan tak bisa mengadvokasi atas semua yang diucapkan. Ketika kita kembali ke hadapan Allah, Sang Maha Pencipta, lisan kita membisu. Terkunci! Tidak bisa lagi bersilat lidah. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Yasin: 65). Tak terasa mata berkaca-kaca membaca ayat yang menginspirasi terciptanya lagu di atas.
Palmerah Syndicate
Bangsa-bangsa: Rasisme, Stereotipe, dan Agenda Politik
KETIKA musim panen politik, pada siklus lima tahunan, pertarungan para politikus sangat keras. Semenjak era electoral demoracy di mana suara rakyat paling menentukan, politikus habis-habisan mengeluarkan jurus agar dapat kursi. Sungguh ironis, kampanye bukan soal elaborasi program kerja tetapi lebih marak kampanye hitam yang dilarang konstitusi. Pasal 280 UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, sudah jelas melarang “menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau peserta pemilu yang lain” atau “menghasut dan mengadu domba perseorangan atau pun masyarakat”.
La Tahzan, Jangan Bersedih!
FATIMAH berlinang air mata. Menangis tersedu-sedu. Gadis usia 14 tahun itu syok ketika melihat sang ayah, Muhammad, pulang dalam keadaan berlumuran tanah dan kotoran di sekujur tubuh. Bagian kepala kotor sampai ke rambut. Pakaian dan jubahnya kotor. Nabi dilempari tanah dan kotoran oleh orang-orang Quraisy. Putri mana yang tidak sedih melihat ayahnya dipersekusi? Tambah sedih karena Fatimah masih berduka ditinggal ibunda, Khadijah
Para Pencari Kebenaran
Sejak pra-Islam (zaman jahiliyah), di kalangan orang Arab yang suka berpikir, sudah biasa melakukan kontemplasi. Berkhalwat, mengasingkan diri ke tempat-tempat sunyi. Orang Arab menyebutnya tahannuts . Mereka merenung, berdoa, mengharapkan jawaban atas kegelisahan atau penyelesaian masalah yang sedang dihadapi
Berhala-berhala Modern
Suatu waktu saya pergi ke Gunung Kawi di Kabupaten Malang. Semua orang ngalap berkah di tempat pesugihan yang mulai muncul pada tahun 1940-an itu. Di depan dua makam, mereka memejamkan mata khusyuk berdoa. Mungkin cuma saya yang pura-pura memicingkan mata.
Taat Ibadah Ritual, Abai Ibadah Sosial
Sambil menikmati teh panas di bawah guyuran hujan, semalam, saya membaca buku Mausu’ah Al-Huquq Al-Islamiyah karya Syekh Sa’ad Yusuf Mahmud Abu Aziz yang ditulis di Gharmin, Manufiah, Mesir, tahun 2000/1421 H. Buku yang terjemahannya berjudul Semua Ada Haknya oleh Ali Nurdin itu sangat tebal: 804 halaman isi plus 24 (xxiv) halaman bagian awal meliputi halaman pengantar dan daftar isi
Menemukan Tuhan di Jalanan
Semalam, seusai tarawih, saya teringat diskusi dengan KH Mustofa Bisri, ulama cum pujangga. Suatu waktu, sudah lama, di bulan Ramadhan juga, saya mengunjungi Gus Mus, panggilan KH Mustofa Bisri, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, Jawa Tengah.
Getol Beribadah Tapi Doyan Korupsi
Dalam sebuah obrolan ngalor-ngidul, ada pertanyaan yang bikin terhenyak: mengapa di ruang sidang banyak terdakwa korupsi berpenampilan necis mengenakan baju koko, kopiah, atau kupluk haji?
Agama, Sumber Kedamaian atau Konflik?
Membaca resolusi konflik yang diterapkan Nabi Muhammad dalam konflik klan Aus dan Khazraj seperti saya tulis kemarin, kita melihat bahwa Islam menjadi sumber kedamaian. Kedua kelompok yang terlibat rivalitas akut bertahun-tahun itu, akhirnya dapat didamaikan dengan nilai-nilai Islam.
Ketika Muhammad Mengajari Berdemokrasi
Pikiran saya sering terusik dengan tesis dua pemikir kondang, Francis Fukuyama (The Last Man Standing and The End of History, 1992) dan pembimbingnya, Samuel Huntington (The Clash of Civilization, 1993) bahwa Islam tidak compatible dengan demokrasi. Benarkah? Tampaknya kita perlu mengambil jarak agar tidak terjebak dalam respons yang reaktif dan defensif. Kita perlu bukti-bukti dan membangun narasi yang logis untuk mendukung bahwa Islam adalah sistem nilai yang selaras dengan demokrasi.
Minoritas, Umar, dan Toleransi
Ada teman bertanya, “Bagaimana rasanya menjadi minoritas? Kontan tenggorokan serasa tercekat. Lidah menjadi keluh. Sebagai Muslim, warga Indonesia pula, saya tak punya jawaban. Cuma teringat pengalaman ketika mengunjungi La Paz, Bolivia, beberapa waktu lalu. Di ketinggian sekitar 3.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), di La Paz terdapat satu masjid
Mendiskusikan Kiblat (Bagian 2-habis) Beragama Secara Sehat
Pendapat Dan Gibson tentang Petra sebagai kiblat awal kaum muslim tentu provokatif. Sampai-sampai langkah kaki seakan tak mau berhenti menyusuri setiap lekuk pahatan dan gua-gua di Petra. Mencoba menelisik, mengonfirmasi, atau sekadar menangkap suasananya seperti narasi Gibson, bahwa Petra lebih pas menggambarkan “Mekkah” masa awal ketimbang Mekkah di Arab Saudi
Masjid Tempat Bersujud
“Di mana pun engkau mendapatkan waktu sembahyang, maka sembahyanglah, dan bumi ini bagi engkau adalah masjid (tempat sembahyang)” (HR. Bukhari) dan “Tanah dijadikan untukku sebagai masjid dan dapat menyucikan” (HR. Muslim).
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
