Kekacauan berlangsung hampir 17 menit. Aparat anti-huru-hara turun tangan, pemain kedua tim terlibat adu emosi, dan atmosfer stadion nyaris tak terkendali. VAR kembali menjadi sasaran kritik, menambah daftar panjang kontroversi wasit di turnamen ini.
Namun drama mencapai puncaknya di titik penalti. Brahim Diaz mencoba eksekusi Panenka yang terlalu percaya diri, tetapi bola dengan mudah diamankan Edouard Mendy. Stadion Pangeran Moulay Abdellah mendadak senyap—peluang emas tuan rumah lenyap seketika.
Belum sempat emosi reda, hanya empat menit memasuki perpanjangan waktu, Pape Gueye melepaskan tembakan keras yang menembus gawang Maroko. Gol tersebut menjadi pembeda dalam laga yang nyaris dibatalkan karena persoalan keamanan.
Selama 30 menit extra time, tensi tetap tinggi. Lebih dari 66 ribu penonton terpaku, sementara Maroko berusaha keras menyamakan skor. Peluang terbaik datang dari sundulan Nayef Aguerd yang menghantam mistar gawang.
Sebelum semua kegilaan itu, 90 menit waktu normal berjalan relatif seimbang. Maroko, dengan euforia pasca Piala Dunia 2022 dan dukungan penuh publik sendiri, difavoritkan mengakhiri penantian 50 tahun gelar Afrika. Namun Senegal kembali tampil sebagai perusak pesta.
Dengan pengalaman pemain seperti Sadio Mane, Edouard Mendy, dan Idrissa Gana Gueye, Senegal akhirnya keluar sebagai juara untuk kedua kalinya setelah 2021.


