KITAINDONESIASATU.COM – “Kalau kita ingat, pelatih Shin Tae-yong datang untuk menangani timnas yang saat itu berada di peringkat 174 dunia serta materi pemain yang apa adanya. Lalu datang Erick Thohir sebagai ketua umum PSSI, yang punya visi jelas untuk memasukkan Indonesia ke peringkat 100. Keduanya kolaborasi. STY menyampaikan kebutuhan pemain untuk kedalamam skuad timnas, dan Erick memenuhi permintaan STY, sekaligus profesional dengan meminta kepada STY untuk mencapai target yang disepakati. Dan hasilnya kita lihat sejauh ini, peringkat kita kenaikannya sudah melonjak 40 poin lebih,” ujar Koci, sapaan akrabnya saat dihubungi Senin (7/10) di Jakarta.
Ia juga menambahkan, kolaborasi keduanya tak bisa lepas dari peran Presiden Joko Widodo yang punya semangat dan visi sama agar sepakbola Indonesia maju. “Saya pernah bilang, bahwa hanya RI 1 yang bisa menyelamatkan sepakbola Indonesia, dan itu terbukti saat Presiden Jokowi menelpon presiden FIFA agar kita tidak kena sanksi paska kasus Kanjuruhan. Tak hanya itu, Jokowi juga punya visi dan peran besar dalam memberikan dukungan bagi sepakbola kita. Baik ketika kita menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 lalu, dan proses-proses naturalisasi diaspora kita yang semuanya membutuhkan persetujuan dari Presiden hingga DPR,” jelasnya.
Menurut Coach Justin, sejak Indonesia menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara yang masih bersaing di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, dirinya merasakan fenomena rasa percaya diri dan kekuatan mental yang selalu terlihat pada diri pemain setiap akan bertanding.
“Saya lihat sekarang, setiap pemain saat masuk ke lapangan mereka bertanding untuk menang. Itu terlihat dari gesture tubuh dan sorot mata. Ini menunjukkan bahwa secara mental, mereka sudah jauh lebih baik dalam menatap pertandingan, sehingga terlihat, mereka seakan tak peduli dengan perbedaan ranking dan hanya fokus dengan yang ada di depan, yakni lawan yang harus dikalahkan. Tak heran, jika Roberto Mancini, pelatih Arab Saudi berkomentar bahwa tidak layak Indonesia berada di rangking rendah, dengan permainan yang mampu menahan imbang timnya, 1-1,” ucapnya panjang.
Meski demikian, Justin menyoroti kapasitas striker Timnas yang masih belum mampu menyandang predikat haus gol. Walau penyerang utama yang miliki Timnas, seperti Rafael Struick, Ramadan Sananta, atau Dimas Drajat merupakan striker terbaik yang ada, tapi kemampuan dan naluri mencetak gol perlu lebih dipertajam.
“Struick itu bagus. Dua gol ke gawang Korsel di Piala Asia U23 lalu menunjukkan kualitasnya. Tapi striker kan dinilai dari gol yang banyak, dan untuk Struick masih terlalu sedikit. Semua striker kita bagus dan sudah dicoba, namun belum ada yang mampu. Untungnya, ketika striker kita belum mampu, ada pemain lain, seperti pemain tengah atau belakang yang bisa cetak gol. Namun untuk ke depan, kita perlu striker yang tajam. Coba bayangkan, tanpa striker tajam saja peringkat kita naik 40 poin. Bagaimana jika kita punya striker yang haus gol? Bukankah peringkat kita akan lebih melesat,” tambah Koci.


