Berbeda dengan atlet voli pantai dari negara lain yang mendapat sponsor besar, Shin Ji Eun harus membiayai sebagian besar partisipasi internasionalnya secara mandiri.
Untuk menutupi biaya pelatihan, perjalanan, dan akomodasi, ia terpaksa bekerja paruh waktu di berbagai tempat, mulai dari toko hamburger, kafe, hingga menjadi guru pendidikan jasmani.
Kondisi ini mencerminkan realitas voli pantai di Korea Selatan yang masih kekurangan fasilitas pelatihan khusus dan pendanaan yang stabil dari federasi.
Menepis Stigma dan Memperjuangkan Profesionalisme
Popularitas Shin Ji Eun juga membawa sisi gelap berupa komentar negatif dan objektifikasi, terutama terkait pakaian seragam bikini yang dikenakan selama bertanding.
Menanggapi hal ini, Shin Ji Eun bersikap tegas dan profesional. Ia menegaskan bahwa penggunaan bikini bukanlah bentuk pamer, melainkan pilihan fungsional yang berakar pada standar olahraga voli pantai internasional.
Pakaian tersebut memungkinkan kebebasan bergerak yang maksimal dan adaptasi terhadap kondisi pasir serta keringat, yang sangat krusial untuk performa atletik.





