Sosok

Zandra Rhodes, Memoar Seorang Ikon Mode yang Terus Berkarya

×

Zandra Rhodes, Memoar Seorang Ikon Mode yang Terus Berkarya

Sebarkan artikel ini
FotoJet 1 1
Zandra dan Diana, Putri Wales, pada tahun 1997. (Foto: Daily Mail)

KITAINDONESIASATU.COM – Selama hampir 60 tahun, Zandra Rhodes telah menjadi salah satu desainer Inggris yang paling flamboyan. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang mengagumkan, dorongan untuk bertindak karena kanker, dan apa yang ia lakukan dengan 6.000 gaunnya.

Ketika memasuki flat Zandra Rhodes, Anda tidak hanya melangkah ke rumahnya, tetapi juga ke dalam ekspresi pribadinya.

Memasuki penthouse yang didekorasi dengan nuansa merah muda yang dalam dan kusam, dengan lantai penuh warna, teraso berkilauan, dan dekorasi merah muda tebal, suasananya mencerminkan kepribadiannya yang flamboyan.

Di usia 83 tahun, Rhodes dikenal karena permainan warnanya yang berani.
Dengan gaun kuning dan potongan rambut bob fuchsia yang khas, ia memancarkan semangat yang ceria.

Rhodes mengingat peristiwa sebelum pandemi, saat sahabatnya, Andrew Logan, memandu sesi yoga di rumahnya, di mana ia pertama kali merasakan gejala serius.

Diagnosis kanker saluran empedu membuatnya terpukul, dengan prognosis hidup hanya enam bulan.

Namun, Rhodes memutuskan untuk merahasiakannya agar tetap bisa bekerja. Keputusan pertama yang dia ambil adalah mengatur surat wasiat dan mendirikan Yayasan Zandra Rhodes untuk menjaga karyanya tetap hidup.

Alih-alih menyerah pada penyakit, dia fokus menyelesaikan buku dan proyek-proyek lainnya, yang menurutnya memberinya rasa pencapaian dan arah baru.

Memoarnya, yang bercerita tentang hidupnya melalui 50 objek, mengungkapkan kisah-kisah penuh warna, seperti persahabatannya dengan Freddie Mercury dan Diana Ross, serta kehidupan bohemiannya di New York.

Rhodes juga berbagi kenangan tentang masa kecil yang sulit, terutama tentang hubungan dengan ayahnya dan penemuan mengejutkan tentang neneknya yang dibunuh secara tragis.

Di usia lanjut, Rhodes tetap aktif, terlibat dalam proyek seni dan mode, serta menjaga semangat mudanya dengan bekerja bersama tim yang sebagian besar berusia di bawah 30 tahun.

Meski begitu, ia tetap kritis terhadap dunia mode dan politik, terutama terkait dampak Brexit terhadap seni di Inggris.
Ia tetap optimis, percaya bahwa kreativitas akan terus bertahan.

Rhodes menekankan pentingnya terus berkarya dan menikmati apa yang dilakukan, terlepas dari tantangan yang dihadapi.

Baginya, usia hanyalah angka, dan semangat kreatif adalah yang terpenting.
Meski menjalani imunoterapi, ia terus menjalani hidup dengan semangat dan optimisme, yakin bahwa kisah hidupnya belum selesai.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *