KITAINDONESIASATU.COM – Pada perayaan HUT ke-79 TNI di Monas, Jakarta, yang digelar pada 5 Oktober, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak tidak menyalami Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden ke-6 RI.
Meski Try Sutrisno telah berusaha berdiri untuk menerima salaman, Jokowi melanjutkan bersalaman dengan tamu-tamu lain, seperti Jusuf Kalla dan Boediono. Momen ini mengundang perhatian publik.
Profil Try Sutrisno
Try Sutrisno adalah tokoh penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, ia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Pada usia 13 tahun,
Try sudah terlibat sebagai kurir dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Setelah Belanda mundur, ia melanjutkan pendidikannya dan akhirnya berhasil masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), di mana karier militernya dimulai.
BACA JUGA : Mengenal Sosok Try Soetrisno: Biografi, Karier, dan Kontribusinya
Karir
Karier Try di militer terus melesat. Ia menjabat sebagai Panglima ABRI ke-7 dari 1988 hingga 1993 dan memiliki hubungan erat dengan Presiden Soeharto.
Pada tahun 1974, Try terpilih sebagai ajudan Presiden Soeharto, yang menandai awal dari kariernya yang semakin cemerlang. Setelah itu, pada tahun 1978, ia diangkat sebagai Kepala Staf Komando Daerah di KODAM XVI/Udayana.
Setahun kemudian, ia menjabat sebagai Panglima Daerah KODAM IV/Sriwijaya, dan empat tahun setelahnya, ia diangkat sebagai Panglima Daerah KODAM V/Jaya yang berpusat di Jakarta.
Pada Agustus 1985, Try Sutrisno dipromosikan menjadi Letnan Jenderal TNI dan diangkat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, mendampingi Jenderal TNI Rudhini. Tak lama setelah menjabat sebagai Wakil Kepala Staf, pada Juni 1986, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat menggantikan Jenderal TNI Rudhini.
Selama sekitar satu setengah tahun menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Try Sutrisno kemudian dipromosikan menjadi Panglima ABRI pada awal 1988, menggantikan Jenderal LB Moerdani.
Karier politiknya mencapai puncak ketika ia menjadi Wakil Presiden ke-6 Indonesia, mendampingi Presiden Soeharto dari 11 Maret 1993 hingga 10 Maret 1998.






