KITAINDONESIASATU.COM – Film dokumenter Dirty Vote II o3, disutradarai Dandhy Dwi Laksono, dirilis pada 20 Oktober 2025 dengan durasi sekitar empat jam.
Film ini menampilkan empat narasumber berprofil intelektual—aktivis, pakar hukum, dan ekonom—yang masing-masing menguraikan peran oligarki dalam politik dan hukum di Indonesia: Bivitri Susanti, Feri Amsari, Zainal Arifin Mochtar, dan Bhima Yudhistira.
– Bivitri Susanti — Pendiri PSHK dan pengamat hukum tata negara yang lahir 5 Oktober 1974. Bivitri menyoroti manipulasi aturan oleh oligarki dan berperan sebagai pengkritik vokal penyimpangan konstitusi. Berbekal gelar hukum dari UI dan LL.M. dari University of Warwick, ia aktif di berbagai lembaga pendidikan dan NGO serta pernah menjadi research fellow di Harvard Kennedy School.
– Feri Amsari — Aktivis hukum asal Sumatera Barat (lahir 2 Oktober 1980) yang membawa perspektif akademis dan riset konstitusi. Berpengalaman sebagai Direktur PUSaKO Unand dan berpendidikan hingga LL.M. di University of Washington, Feri meneruskan analisis tentang penggunaan instrumen hukum untuk konsolidasi kekuasaan.
– Zainal Arifin Mochtar — Dosen hukum tata negara UGM (lahir 8 Desember 1978) yang fokus pada upaya anti-korupsi. Berpendidikan di UGM dan Northwestern (LL.M.), serta pengajar dan peneliti aktif, Zainal membahas bagaimana oligarki mengeksploitasi korupsi struktural untuk membajak sistem politik.
– Bhima Yudhistira — Ekonom muda yang baru bergabung di sekuel ini. Berpendidikan Master in Finance dari University of Bradford dan sebagai Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima menguraikan dimensi ekonomi oligarki—bagaimana kontrol atas ekonomi dipakai untuk memperkuat pengaruh politik—sehingga melengkapi analisis para ahli hukum dalam film.
Keempat narasumber menghadirkan kombinasi bukti akademis, pengalaman advokasi, dan analisis ekonomi yang membuat Dirty Vote II o3 menjadi lanjutan komprehensif dari seri sebelumnya, sekaligus seruan untuk transparansi dan penguatan supremasi hukum dalam demokrasi Indonesia. (*)




