Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, atau akrab disapa Sara, merupakan tokoh muda di Partai Gerindra yang sering memperjuangkan isu-isu sosial di tanah air.
Sara, yang dikenal luas sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, memiliki kiprah di dunia politik dan sosial yang layak mendapat perhatian. Terbaru, ia menyuarakan pembelaan terhadap Ipda Rudy Soik, seorang anggota kepolisian yang mendapat pemecatan tidak hormat terkait penyelidikan kasus dugaan mafia bahan bakar minyak (BBM) di Kupang.
Ipda Rudy Soik merupakan salah satu anggota kepolisian yang belakangan ini disorot media akibat pemecatan tidak hormat. Pemecatan ini dilakukan atas dugaan pelanggaran kode etik yang dinilai terjadi saat Rudy menyelidiki kasus terkait BBM bersubsidi di Kupang.
Dalam penyelidikannya, Rudy diduga tidak melibatkan unit terkait dan dianggap tidak mematuhi standar prosedur operasional yang berlaku. Rudy disebut memasang garis polisi pada drum dan jerigen kosong di lokasi terpisah, yang dinilai sebagai tindakan yang tidak profesional.
Kasus ini pun akhirnya menarik perhatian Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, termasuk anggota Fraksi Partai Gerindra, Rahayu Saraswati. Menurut Sara, kasus ini semestinya bisa diselesaikan secara internal di kepolisian tanpa harus naik ke DPR RI. Dalam rapat dengan Polda NTT, ia mengungkapkan rasa kecewanya atas pemecatan yang dinilai terlalu berat bagi Rudy.
“Saya sangat menyayangkan bahwa hal seperti ini harus diangkat sampai ke level DPR RI di pusat, Komisi III,” ujar Sara dalam rapat tersebut.
Sara juga mempertanyakan alasan di balik pemberhentian tidak hormat Ipda Rudy. Baginya, Rudy memiliki rekam jejak yang baik dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Ia berharap agar pihak kepolisian bisa mengevaluasi kembali keputusan ini dan mempertimbangkan kelayakan pemecatan tidak hormat yang diberikan kepada Rudy.
Profil Singkat Rahayu Saraswati
Rahayu Saraswati lahir pada 27 Januari 1986 dan dikenal sebagai putri dari Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto. Dengan latar belakang keluarga yang berpengaruh, Sara tumbuh dalam lingkungan yang erat kaitannya dengan dunia bisnis dan politik. Ayahnya, Hashim, adalah seorang pengusaha sukses yang juga turut berperan dalam dunia politik Indonesia.
Sara memulai kiprahnya di politik melalui sayap organisasi Partai Gerindra, yang kemudian mengantarkannya pada berbagai posisi strategis. Saat ini, Sara menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra periode 2020-2025. Kiprahnya di partai ini membawanya ke posisi penting, di mana ia kerap terlibat dalam isu-isu kebijakan yang menjadi perhatian publik.
Pendidikan dan Pengalaman Masa Muda
Sara menjalani pendidikan dasar di Indonesia, tepatnya di SD Tarakanita II. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah di Singapura, di United World College of South East Asia (UWCSEA). Namun, pendidikannya di sana hanya berlangsung beberapa bulan sebelum ia pindah ke Swiss, mengikuti keluarganya yang telah terlebih dahulu tinggal di sana karena penugasan diplomatik ayahnya.
Di Swiss, Sara melanjutkan pendidikan menengahnya hingga lulus SMA. Selama masa SMA, ia aktif di kegiatan ekstrakurikuler, salah satunya adalah tim sepak bola. Sara bahkan sempat meraih prestasi nasional bersama tim sepak bola Junior Varsity yang mewakili provinsi tempatnya bersekolah.
Lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Virginia, Amerika Serikat, melalui jalur Early Decision. Di universitas ini, Sara mengambil jurusan Drama dan Peradaban Kuno, memperlihatkan ketertarikannya pada bidang seni dan budaya.
Kiprah Sara di Dunia Politik
Kiprah Sara di politik tidak terlepas dari dukungan keluarga serta semangatnya dalam mengadvokasi isu-isu sosial. Pada Pemilu 2014, Sara mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IV dan berhasil lolos ke Senayan. Selama periode 2014-2019, Sara bertugas di Komisi VIII DPR RI, yang menangani isu-isu sosial, agama, dan pemberdayaan perempuan.
Pada Pileg 2019, Sara kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif, kali ini dari Dapil III Jakarta yang meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu. Meski hasilnya tidak memuaskan, Sara tetap aktif di Partai Gerindra dan mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Umum.
Sara juga pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Wali Kota Tangerang Selatan pada 2020, berpasangan dengan Muhamad, mantan Sekretaris Daerah Kota Tangsel sekaligus politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Pasangan Muhamad-Sara memperoleh dukungan dari sembilan partai politik, termasuk PDI-P, Gerindra, PSI, PAN, dan Hanura. Meski gagal menang, pengalaman ini menambah wawasannya di dunia politik lokal.
Aktivitas Sosial Rahayu Saraswati
Selain aktif di dunia politik, Rahayu Saraswati juga dikenal sebagai aktivis yang peduli terhadap masalah perdagangan manusia. Sara menjabat sebagai Ketua Jaringan Nasional Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (JarNas Anti TPPO), sebuah organisasi yang berfokus pada upaya pencegahan dan pemberantasan perdagangan manusia di Indonesia.
Kepeduliannya terhadap isu perdagangan manusia ini menunjukkan sisi lain dari seorang Sara yang ingin memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, ia menyuarakan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak yang sering menjadi korban dalam kasus perdagangan manusia.
Pandangan Sara terhadap Kasus Ipda Rudy Soik
Dalam kasus pemecatan Ipda Rudy Soik, Sara menunjukkan kepeduliannya terhadap aspek keadilan. Menurutnya, kasus seperti ini mestinya bisa diselesaikan secara internal di lingkungan kepolisian tanpa harus mencapai level DPR RI. Sara merasa bahwa tindakan yang dilakukan Rudy tidak seharusnya dianggap sebagai pelanggaran berat yang berujung pada pemecatan tidak hormat.
Sara berharap agar pihak kepolisian dapat mengevaluasi ulang keputusan yang diambil terhadap Rudy. Selain itu, ia juga mendorong agar pihak kepolisian memperbaiki prosedur penegakan kode etik sehingga kasus serupa tidak terjadi di masa depan.
Rahayu Saraswati Djojohadikusumo adalah sosok inspiratif dalam dunia politik dan sosial di Indonesia. Sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, ia tidak hanya meniti karier di Partai Gerindra, tetapi juga aktif dalam memperjuangkan isu-isu sosial yang mendalam. Pembelaannya terhadap Ipda Rudy Soik menunjukkan sikap kritisnya terhadap ketidakadilan, terutama dalam kasus yang menyangkut kehormatan dan profesionalisme seorang aparat.
Dengan pengalaman pendidikan internasional dan kiprahnya di dunia politik, Rahayu Saraswati diharapkan terus menjadi figur muda yang bisa memberi kontribusi positif bagi masyarakat Indonesia.




