KITAINDONESIASATU.COM – Profil pemimpin senior Hamas, Yahya Sinwar, dilaporkan tewas setelah rumahnya di Gaza ditembaki oleh tank Israel pada 16 Oktober 2024.
Serangan ini terjadi di tengah konflik yang terus berkecamuk antara Israel dan Palestina, dengan Sinwar sebagai salah satu target utama Israel karena perannya yang sangat penting.
Pada tanggal 10 Oktober 2024, tank Israel menembaki sebuah rumah di Gaza yang Israel curigai sebagai tempat persembunyian Sinwar.
Pada pagi hari setelah serangan, drone Israel menangkap citra wajah ‘mirip’ dengan Yahya Sinwar di antara reruntuhan bangunan.
Pemerintah Israel saat ini sedang memeriksa sidik jari dan catatan gigi jasad tersebut, serta melakukan tes DNA untuk mengonfirmasi identitasnya.
Baca Juga : Profile Teguh Setyabudi, Pj Gubernur DKI Pengganti Heru Budi
Israel juga telah memberi tahu Amerika Serikat mengenai kematian Sinwar dan tengah menunggu hasil tes DNA.
Sinwar memiliki julukan yaitu “dead man walking” oleh beberapa kalangan karena posisinya sebagai salah satu pemimpin utama dalam Hamas.
Profil Yahya Sinwar
Yahya Sinwar lahir di kamp pengungsi Khan Younis di Gaza selatan.
Dia bergabung dengan Hamas sejak awal organisasi ini di bawah pimpinan Sheikh Ahmad Yassin pada tahun 1987, bertepatan dengan Intifada Palestina pertama.
Sebagai salah satu pendiri sayap keamanan internal Hamas, Sinwar memimpin unit intelijen yang secara brutal menindak warga Palestina apabila ketahuan memberikan informasi kepada Israel.
Karena sikap itulah, Sinwar terkenal sebagai sosok keras dalam perjuangan Hamas.
Selain itu, Sinwar merupakan lulusan Universitas Islam di Gaza dan mempelajari bahasa Ibrani selama 23 tahun di penjara Israel.
Baca Juga : Profil Jusuf Muda Dalam; Orang Soekarno yang Mati dalam Penjara
Pemahamannya yang mendalam tentang Israel diperoleh selama dia menjalani hukuman atas pembunuhan dua tentara Israel.
Setelah bebas dalam pertukaran tahanan tahun 2011, Sinwar naik menjadi komandan senior Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas.
Pada akhirnya, dia mengambil alih kepemimpinan Hamas di Gaza.
Berbeda dengan pemimpin Hamas sebelumnya, Ismail Haniyeh, yang cenderung lebih moderat, Sinwar mengambil pendekatan yang lebih konfrontatif terhadap Israel.




