KITAINDONESIASATU.COM – Sabam Sirait adalah salah satu politisi senior Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam dunia politik tanah air.
Selain dikenal sebagai pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini berkembang menjadi PDIP, Sabam Sirait juga merupakan ayah dari Maruarar Sirait, seorang tokoh politik yang kini memilih mundur dari PDIP dan mendukung Presiden Joko Widodo.
Profil Sabam Sirait
Sabam Sirait lahir pada 13 Oktober 1936 di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Ia merupakan sulung dari empat bersaudara. Meskipun awalnya didorong oleh orangtuanya untuk menjadi seorang guru atau polisi, Sabam memilih jalur yang berbeda. Ia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meskipun tidak menyelesaikan pendidikannya karena kesibukannya di dunia organisasi, Sabam tetap menjadikan pendidikan sebagai salah satu hal yang sangat dihargai dalam hidupnya.
Pada 1961, Sabam Sirait terjun ke dunia politik sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Pusat (DPP) Parkindo, sebuah partai yang kelak akan bergabung dengan partai-partai lain untuk membentuk PDI pada 1973. Di bawah kepemimpinan Sabam, Parkindo bergabung dengan Partai Katolik, PNI, Partai Murba, IPKI, dan Partai Parkindo untuk membentuk PDI, yang kemudian menjadi PDIP. Sabam Sirait menjabat sebagai Sekjen PDIP dari 1973 hingga 1986.
Karier Politik Sabam Sirait
Sebagai seorang politisi yang sangat berpengaruh, Sabam Sirait memiliki perjalanan karier yang sangat panjang dan penuh warna. Ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Sumatera Utara pada periode 1967-1971 dan 1977-1982. Meskipun mengalami kegagalan dalam dua pemilu berikutnya, Sabam tidak menyerah. Ia kemudian ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dari 1983 hingga 1992.
Pada tahun 1992, Sabam Sirait kembali mencalonkan diri dalam Pemilu dan berhasil mendapatkan kursi di DPR, kali ini mewakili Irian Jaya (sekarang Papua). Ia menjabat sebagai anggota DPR hingga tahun 1997. Sabam juga mencalonkan diri dalam Pemilu 1999 dan terpilih sebagai anggota DPR DKI Jakarta, yang menjabat hingga 2004. Meski sempat gagal dalam beberapa pemilu berikutnya, Sabam tetap menjadi tokoh penting dalam politik Indonesia.
Kontribusi Sabam Sirait dalam Politik Indonesia
Sabam Sirait dikenal sebagai seorang politisi yang sangat berkomitmen untuk memperjuangkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Salah satu langkah besar yang diusungnya adalah mendorong pemerintah Indonesia untuk menyusun undang-undang yang melarang praktik monopoli. Pada tahun 1987, Sabam mengusulkan agar pemerintah membuat Undang-Undang Antimonopoli untuk mencegah praktik bisnis yang tidak sehat. Meskipun usulan tersebut tidak diterima pada saat itu, Sabam tetap berjuang untuk mewujudkan hal ini.
Baru pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat disahkan. Sabam sangat menyayangkan bahwa usulannya tersebut baru diakui bertahun-tahun setelah dia mengusulkannya, namun ia tetap bangga karena akhirnya Indonesia memiliki regulasi yang melindungi persaingan usaha yang sehat.
Sabam Sirait dan Perjuangannya untuk Keberagaman
Selain dikenal sebagai seorang politisi, Sabam Sirait juga sangat perhatian terhadap masalah keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Sebagai seorang kristiani, Sabam sering kali memperjuangkan hak-hak umat Muslim, terutama dalam hal kebebasan beribadah. Ia tercatat pernah menentang praktik sensor terhadap khutbah Jumat di masjid selama era Orde Baru.
Sabam juga sangat mendukung kemerdekaan Palestina dan perjuangan Irak, dengan lantang membela negara-negara tersebut dalam berbagai kesempatan. Pengaruhnya yang kuat dalam dunia politik Indonesia tidak hanya diukur dari posisinya, tetapi juga dari komitmennya dalam memperjuangkan keadilan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Warisan yang Ditinggalkan Sabam Sirait
Sabam Sirait meninggal dunia pada 29 September 2021 pada usia 84 tahun. Meskipun telah tiada, jejak politik yang ditinggalkannya tetap dikenang. Ia merupakan penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada 2015, yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Kehilangannya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang, terutama dalam dunia politik Indonesia.
Banyak yang mengenang Sabam sebagai seorang yang berani bersuara untuk kepentingan rakyat, meskipun sering kali ia berada di posisi yang tidak populer. Dalam pandangan Gomar Gultom, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Sabam merupakan sosok yang bisa menjadi “imam” di tengah keributan politik, seorang yang senantiasa menjaga keadilan dan kebenaran.
Maruarar Sirait dan Pesan Sang Ayah
Maruarar Sirait, putra Sabam Sirait, memutuskan untuk mundur dari PDIP pada Januari 2024. Dalam pernyataannya, Maruarar mengungkapkan bahwa salah satu alasan di balik keputusannya adalah pesan dari sang ayah, Sabam Sirait, yang selalu mengingatkan untuk menjaga dan membela Presiden Joko Widodo. Maruarar menyatakan bahwa dirinya akan tetap mendukung Jokowi karena prinsip dan keyakinannya bahwa Jokowi adalah pemimpin yang baik untuk rakyat Indonesia.
Pesan ini menunjukkan betapa besar pengaruh yang dimiliki Sabam Sirait dalam kehidupan politik anaknya. Meski Maruarar memilih untuk meninggalkan partai, dia tetap meneguhkan prinsip yang telah diwariskan oleh ayahnya, yaitu untuk selalu menjaga kepemimpinan Jokowi yang dianggapnya membawa banyak kebaikan bagi bangsa Indonesia.
Sabam Sirait adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan politik Indonesia. Sebagai salah satu pendiri PDIP dan seorang politisi senior, ia memiliki kontribusi besar dalam membentuk peta politik di Indonesia. Selain itu, warisan nilai-nilai keberagaman dan demokrasi yang diperjuangkannya tetap menjadi bagian penting dari politik Indonesia hingga saat ini. Meskipun telah meninggal dunia, kenangan dan perjuangannya akan terus dikenang oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang mengenalnya sebagai tokoh yang berani memperjuangkan keadilan dan kebenaran di tengah dinamika politik yang sering kali penuh tantangan.






