KITAINDONESIASATU.COM – Merince Kogoya belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah dirinya dicoret dari ajang Miss Indonesia 2025.
Siapa sebenarnya Merince Kogoya? Mengapa ia sampai didiskualifikasi? Berikut profil lengkap Merince Kogoya mulai dari biodata, prestasi, hingga kontroversi yang menimpanya.
Siapa Merince Kogoya?
Merince Kogoya adalah perempuan asal Papua Pegunungan yang berhasil menjadi finalis Miss Indonesia 2025. Ia lahir di Wamena pada 14 Agustus 2005 dan kini berusia 19 tahun. Merince tumbuh besar di Jayapura, Papua, dan dikenal sebagai sosok yang cerdas serta aktif dalam kegiatan sekolah.
Biodata Singkat Merince Kogoya
- Nama Lengkap: Merince Kogoya
- Tempat, Tanggal Lahir: Wamena, 14 Agustus 2005
- Usia: 19 tahun (2025)
- Asal Daerah: Papua Pegunungan
- Agama: Kristen Protestan
- Instagram: @kogoya_merry
Pendidikan Merince Kogoya
Merince mengenyam pendidikan dasar di SD Negeri Inpres Hedam Abepura Jayapura, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 3 Jayapura. Setelah lulus SMP, ia diterima di SMA Negeri 3 Jayapura, salah satu SMA favorit di kota tersebut.
Saat ini, Merince sedang menempuh kuliah di Jurusan Manajemen, Universitas Cendrawasih Jayapura, universitas terbesar di Papua.
Prestasi Merince Kogoya
Selain aktif di bidang akademik, Merince juga dikenal berprestasi di berbagai bidang, antara lain:
- Kompetisi Sains Nasional (KSN)
- Ia berhasil meraih Juara 3 KSN tingkat Provinsi Papua pada tahun 2021 saat masih SMA. Bidang yang ia ikuti adalah ekonomi, sesuai minatnya di manajemen dan bisnis.
Merince tergabung dalam tim basket sekolahnya dan pernah tampil di Honda DBL 2021 Papua Series serta DBL KFC 2022–2023. Ia dikenal memiliki tinggi badan ideal dan stamina kuat di lapangan, sehingga menjadi andalan tim SMA Negeri 3 Jayapura.
Perjalanan di Miss Indonesia 2025
Merince mengikuti audisi Miss Indonesia tingkat provinsi dan terpilih menjadi Miss Papua Pegunungan 2025, sehingga otomatis mewakili daerahnya di tingkat nasional. Wajahnya yang khas Papua, kepercayaan diri, serta kemampuan public speaking yang baik menjadi nilai tambah di mata juri.
Apa Misi Merince di Miss Indonesia?
Dalam salah satu wawancara, Merince menyatakan bahwa ia ingin:
- Membawa nama Papua Pegunungan lebih dikenal nasional
- Menginspirasi gadis-gadis Papua agar percaya diri mengejar mimpi
- Memperjuangkan pendidikan dan akses internet bagi anak-anak di pedalaman
Kontroversi Merince Kogoya Diskualifikasi Karena Video Pro-Israel
Sayangnya, langkah Merince di Miss Indonesia 2025 harus terhenti. Ia didiskualifikasi setelah video lamanya viral. Dalam video tersebut, Merince tampak mengibarkan bendera Israel di Papua dan menulis caption “I STAND WITH ISRAEL” di bio Instagram pribadinya.
Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan mayoritas masyarakat Indonesia mendukung perjuangan Palestina. Unggahan Merince memicu amarah netizen, terutama di X (Twitter) dan Instagram. Banyak yang menilai aksinya tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Menanggapi kontroversi ini, Merince menjelaskan bahwa aksinya bukan dukungan politik, melainkan ekspresi keagamaan. Dalam keyakinan Kristen yang ia anut, Israel memiliki makna teologis tertentu. Ia menekankan bahwa video tersebut dibuat sebagai doa dan harapan untuk berkat, bukan dukungan konflik.
Panitia Miss Indonesia akhirnya mencoret Merince dari daftar finalis saat masa karantina. Posisinya digantikan oleh Karmen Anastasya, finalis cadangan asal Papua Pegunungan. Pihak panitia menyatakan keputusan ini demi menjaga netralitas kompetisi dan menghindari potensi polemik berkepanjangan.
Dalam Instagram Story-nya, Merince mengaku sedih dan kecewa. Ia menulis bahwa dirinya sudah berjuang keras bersama tim dengan mengeluarkan dana hingga Rp65 juta untuk persiapan kostum dan kebutuhan karantina. Ia menyesalkan keputusan panitia yang menurutnya dipengaruhi komentar negatif warganet pro-Palestina.
Merince Kogoya adalah gadis Papua berbakat yang memiliki potensi besar di masa depan. Meski langkahnya terhenti di Miss Indonesia 2025, ia tetap menjadi inspirasi bagi banyak remaja Papua. Kisahnya juga mengingatkan kita untuk bijak menggunakan media sosial dan memahami dampak dari setiap opini publik yang kita bagikan.




