KITAINDONESIASATU.COM – Nama Ardito Wijaya mendadak kembali meroket di jagat pemberitaan nasional—bukan karena prestasi gemilang, melainkan karena ia menjadi tokoh sentral dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ya, sosok yang dulu dielu-elukan sebagai dokter muda yang jadi harapan Lampung Tengah, kini mendadak jadi headline setelah dibekuk tim antirasuah pada Rabu (10/12).
Pria kelahiran Bandar Jaya, 23 Januari 1980 ini awalnya dikenal sebagai dokter yang bersahaja. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti itu memulai kariernya sebagai dokter puskesmas, mengurus pasien dari desa ke desa, sebelum naik kelas menjadi pejabat Dinas Kesehatan.
Dari sinilah kariernya melesat. Jabatan demi jabatan diraih, hingga pada 2021 ia duduk sebagai Wakil Bupati Lampung Tengah—batu loncatan yang mengantarnya memenangkan kursi bupati pada 2025.
Segalanya tampak mulus. Ardito tampil sebagai pemimpin muda, rapi, berwibawa, dan selalu hadir dalam berbagai seremoni publik. Dalam laporan harta kekayaannya, total asetnya mencapai lebih dari Rp12 miliar—mulai dari tanah, bangunan, hingga mobil mewah.
Banyak yang menganggap Ardito sebagai generasi baru birokrasi Lampung, modern, berpendidikan, dan punya masa depan panjang dalam politik lokal.
Namun semua narasi indah itu runtuh dalam satu malam. KPK menggeledah rumah pribadinya di Terbanggi Besar. Bukan hanya dokumen yang disita. Uang tunai ratusan juta rupiah, buku rekening atas nama dirinya dan istri, hingga lembar-lembar bukti transaksi ikut diboyong penyidik. Dari situ, drama berlanjut.
Tim KPK kemudian menjemput Ardito dalam OTT yang menyeret sedikitnya empat orang lainnya. Mereka semua langsung diterbangkan ke Gedung Merah Putih KPK di Jakarta untuk pemeriksaan maraton.
KPK sendiri menegaskan masih memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status hukum Ardito dan para pihak yang turut diamankan. Namun sinyal-sinyal awal dari penyitaan uang tunai serta dokumen rekening sudah memberi gambaran ke mana arah kasus ini bergerak. (*)




