Berita UtamaSosok

Perjalanan 10 Tahun Retno Marsudi, Perempuan Pertama yang Mengukir Sejarah di Kementerian Luar Negeri

×

Perjalanan 10 Tahun Retno Marsudi, Perempuan Pertama yang Mengukir Sejarah di Kementerian Luar Negeri

Sebarkan artikel ini
FotoJet 13 1
Menlu, Retno Marsudi

KITAINDONESIASATU.COM – Ini adalah kali pertama Indonesia memiliki seorang perempuan sebagai menteri luar negeri. Retno Marsudi, diplomat asal Semarang, memegang tanggung jawab besar untuk mewakili Indonesia di kancah internasional.

Dengan latar belakang sebagai birokrat, Retno ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu menteri dalam Kabinet Kerja.

Setelah 10 tahun berada di kementerian luar negeri dan menjelang akhir periode pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 20 Oktober 2024, Retno Marsudi berpamitan.

“Saya mohon pamit. Matur suwun. Semoga Ibu/Bapak selalu diberkahi kesehatan. Dan sekali lagi, jangan pernah lelah membela keadilan dan kebenaran,” ungkap Retno saat menerima penghargaan Diplomacy Mujahidah Award dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, pada Kamis pagi, 3 Oktober 2024.

Retno juga menceritakan pengalamannya selama 10 tahun menjabat sebagai menteri luar negeri, di mana menjalankan politik luar negeri sering kali tidaklah mudah. Ia menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya, ia harus mengutamakan kepentingan nasional sekaligus berkontribusi terhadap perdamaian di tengah kondisi global yang tidak stabil.

“Moralitas dan nilai-nilai kebajikan harus terus menjadi panduan kita dalam menjalankan tugas masing-masing,” kata Retno.

Selain itu, Retno mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantunya selama menjabat sebagai menteri luar negeri, serta meminta maaf jika ada tugas yang belum terlaksana dengan baik selama sepuluh tahun ini.

Retno Lestari Priansari Marsudi, akrab dipanggil Retno, lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 November 1962.

Ia menikah dengan arsitek Agus Marsudi dan memiliki dua anak, Dyota dan Bagas.
Pendidikan dasar hingga menengahnya diselesaikan di Semarang, sebelum melanjutkan studi Hubungan Internasional di FISIP UGM, Yogyakarta.

Pada tahun terakhir kuliah, Retno mendapatkan beasiswa dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Setelah satu tahun menerima beasiswa, ia lulus dan langsung direkrut oleh Kemenlu.
Karier diplomatiknya dimulai pada usia 30 tahun. Ia ditugaskan ke Australia untuk menangani isu terkait pembantaian warga Timor Leste di Santa Cruz, Dili.

Kariernya semakin bersinar pada tahun 1997 ketika ia ditugaskan ke Belanda sebagai sekretaris bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag.

Ia juga pernah menjabat sebagai direktur Eropa dan Amerika, serta pada usia 43 tahun, diangkat menjadi duta besar untuk Norwegia dan Islandia.

Setelah kembali ke Indonesia, Retno kembali dipercaya untuk menjabat sebagai duta besar untuk Belanda pada tahun 2012.

Dua tahun kemudian, ia diminta kembali ke Jakarta. Setelah 22 tahun berkarier sebagai diplomat, Retno diangkat oleh Joko Widodo sebagai menteri luar negeri RI pada periode 2014-2019, menjadikannya sebagai perempuan pertama yang menjabat posisi tersebut.

Karier
Third Secretary Penerangan KBRI Canberra (1990–1994)

Counselor Ekonomi KBRI Den Haag (1997–2001)

Deputi Direktur Kerja Sama Ekonomi Multilateral (2001)

Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Amerika dan Eropa (2002–2003)

Direktur Eropa Barat (2003–2005)

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia (2005–2008)

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemenlu RI (2008–2012)

Duta Besar untuk Kerajaan Belanda (2012–2014)

Menteri Luar Negeri RI (2014–2019)
Penghargaan

Order of Merit (Grand Officer), bintang jasa tertinggi kedua di Norwegia, yang diberikan oleh Raja Norwegia pada Desember 2011. Retno adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *