Sosok

Mengenang Sultan Ageng Tirtayasa Membangun Banten

×

Mengenang Sultan Ageng Tirtayasa Membangun Banten

Sebarkan artikel ini
sultanagengtirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa

KITAINDONESIASATU.COM-Sultan Abulmufakhir  Mahmud  Abdul  Kadir  meninggal dunia pada 10 Maret 1651. Sebagai penggantinya, diangkatlah Pangeran Adipati Anom Pangeran  Surya,  putra Abu al-Ma’ali Ahmad, menjadi Sultan Banten ke-5  tanggal  10  Maret  1651. Sultan baru ini dikenal sebagai Pangeran Ratu Ing  Banten atau Sultan Abulfath  Abdulfattah; gelar  lengkapnya  adalah Sultan  Abu  Al  Fath  Abdul  Fattah  Muhammad Syifa  Zaina  Al  Arifin.

Sultan  yang  lebih  dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) ini, adalah  seorang  ahli  strategi  perang  yang  dapat diandalkan.  Selain  itu,  Sultan  Ageng  Tirtayasa juga menaruh perhatian yang besar pada perkembangan  pendidikan  agama  Islam.  Untuk membina  mental para    prajurit Banten, ia mendatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, dan  daerah  lainnya. 

Salah  seorang  guru agama tersebut ialah seorang ulama besar dari Makassar, Syekh  Yusuf,  yang  dikenal  dalam  tradisi Makassar  sebagai Tuanta  Salamakaatau Syekh Yusuf Taju’l  Khalwati.  la  kemudian  dijadikan mufti  agung,  guru,  dan  menantu Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada  tahun-tahun  pertama  pemerintahan-nya, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengembangkan kembali perdagangan Banten. Hal tersebut dapat  dilihat  dari  kenyataan  bahwa Banten  berhasil  menarik  perdagangan  bangsa Eropa seperti Inggris, Prancis, Denmark, dan  Portugis. 

Sebagai  saingan VOC, Banten lebih dekat dengan para pedagang Eropa itu karena masih menjalankan sistem perdagangan bebas, bukan sistem  perdagangan monopoli seperti yang dijalankan Vereenigde Oost Indische  Compagnie (VOC),  Perserikatan Dagang Hindia Timur yang dalam istilah pribumi disebut “Kompeni”.

Baca Juga  Jeffrey Epstein, Finansier Elit dengan Dosa Besar Skandal Seks Global

Selain  itu,  Banten mampu mengembangkan perdagangannya dengan   Persia, Surat, Makkah, Koromandel, Benggala, Siam, Tonkin, dan  China sehingga VOC menganggap keadaan ini sebagai ancaman serius terhadap perdagangannya yang berbasis di Batavia.

Selain mengembangkan perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa berupaya  juga untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah Priangan,   Cirebon, dan sekitar Batavia guna mencegah perluasan wilayah kekuasaan Mataram yang  telah  masuk  sejak  awal  abad  ke-17. Selain itu, juga untuk  mencegah pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang tujuan akhirnya  adalah penguasaan secara politik terhadap Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa meneruskan usaha kakeknya mengirimkan tentara   Banten untuk mengadakan gangguan terhadap  Batavia,  pusat politik VOC,  karena Belanda terus-menerus melakukan rongrongan politik kolonialnya. Pada 1655,  VOC  telah  mengusulkan  kepada  Sultan Banten  agar  melakukan  pembaruan  perjanjian yang sudah  hampir 10 tahun dibuat oleh kakeknya tahun 1645. Akan tetapi, pihak Banten merasa tidak perlu   memperbaruinya selama  pihak Kompeni  ingin  menang  sendiri.

Namun,  akhirnya  Sultan  Ageng  Tirtayasa  harus terlibat dalam konflik langsung dengan VOC yang kemudian juga berkonflik dengan putra mahkota yaitu Sultan Haji.

Baca Juga  Profil Jay Idzes: "Manusia 10 Juta Euro" dari Indonesia!

Ditahan sampai wafat

Lantas, bagaimana konflik yang terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji? Penyebab utama konflik Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji adalah upaya Sultan Haji merebut kekuasaan dan bersengkokol dengan VOC. Padahal, Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja di Nusantara yang menentang keras pendudukan VOC di Indonesia.

Pada 1652, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan tentaranya untuk menyerang VOC di Jakarta yang kemudian berujung pertempuran. Perannya dalam mempertahankan Kesultanan Banten adalah melakukan sabotase dan perusakan kebun tebu milik VOC pada 1656. 

Tak hanya itu, pasukan Banten juga membakar kampung-kampung yang dijadikan sebagai pertahanan Belanda. Berkat kegigihannya, sejumlah kapal VOC serta beberapa pos penting berhasil dikuasai oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sayangnya, semangat perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa dalam menentang VOC kurang disetujui oleh sang putra, Sultan Haji.

Mengetahui hal ini, perwakilan Belanda, W Caeff, berusaha mendekati Sultan Haji yang dianggap mudah dihasut. Akibat hasutan Belanda, Sultan Haji membelot untuk bersekongkol dengan VOC dan menjadi musuh ayahnya sendiri. 

Taktik Belanda ini disebut sebagai devide et impera atau taktik adu domba yang tujuannya untuk memecah belah keluarga kerajaan.

Baca Juga  Profil James Ransone, Aktor The Wire dan It Chapter Two Meninggal Dunia di Usia 46 Tahun

Setelah membelot dan bekerja sama dengan VOC, Sultan Haji berusaha merebut kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa atas Kesultanan Banten. Namun, sebagai imbalan membantu Sultan Haji mendapatkan kekuasaan Banten, Belanda mengajukan empat syarat, yakni

– Cirebon diserahkan kepada VOC. 

– VOC diperbolehkan monopoli perdagangan lada di Banten dan para pedagang lain harus diusir.

– Banten membayar 600.000 ringgit ke VOC jika melanggar perjanjian. 

– Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan harus ditarik. 

Meski perjanjian ini diketahui sangat melemahkan dan merugikan Kesultanan Banten, Sultan Haji tetap menerimanya.

Setelah perjanjian antara Sultan Haji dan VOC dilakukan, pertempuran antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji dimulai. Pertempuran pun berlangsung sangat sengit, karena Sultan Ageng Tirtayasa tidak berhenti melakukan perlawanan terhadap putranya yang dibantu VOC.

Namun, pada akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh VOC dan dipenjara di Batavia sampai wafat pada 1692. Setelah sang ayah ditangkap, keinginan Sultan Haji untuk naik takhta Kesultanan Banten pun berhasil tercapai. Ia berkuasa sejak 1683-1687. Namun, masa kekuasaan Sultan Haji menandai kemunduran Kesultanan Banten karena perjanjian dengan VOC sangat merugikan kerajaan. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *