KITAINDONESIASATU.COM – Maggie Smith sering terlihat tak peduli dengan keinginan untuk dicintai, namun kekaguman terhadapnya begitu meluas.
Kedua hal ini saling terkait; setiap orang yang menontonnya dapat merasakan kejujuran yang kuat di balik kecerdasannya yang tajam serta kemampuannya untuk, dengan mudah, memperlihatkan sisi tergelap dari pengalaman manusia.
Bagi Maggie, hidup penuh dengan humor dan kepedihan. Kehadirannya membawa kegembiraan. Ia bahkan lebih cerdas dan lucu daripada yang dibayangkan banyak orang.
Namun, sejak suaminya, Beverley, meninggal pada tahun 1998, Maggie sering merasakan kesepian, dan kegembiraan baginya adalah cara untuk menertawakan kesedihan hidup yang tak terhindarkan, sesuatu yang mendorongnya dalam seni peran.
Kesenian itu menjadi saksi tragisnya hidup sekaligus jalan untuk melarikan diri darinya.
Maggie selalu berada beberapa langkah di depan orang lain, dengan kecerdasan yang jauh melampaui kebanyakan. Ia tidak pernah puas dengan penampilannya dan bahkan ketika berhasil, ia akan menciptakan tantangan baru untuk dirinya sendiri.
Penampilan terakhirnya di panggung pada usia 85 tahun di Bridge Theatre, sebagai Brunhilde Pomsel dalam A German Life karya Christopher Hampton, memperlihatkan salah seorang sekretaris Goebbels yang berbohong tentang hidupnya dalam sebuah monolog sepanjang 100 menit.
Dalam perannya, karakternya menertawakan masa lalunya, mengecam Nazi, dan mengeluh tentang ketidakadilan, sementara tetap tersirat bahwa wanita tersebut menyadari keterlibatannya dalam kejahatan.
Maggie, dengan penuh semangat, mengingatkan penonton tentang kariernya yang gemilang – dari tampil bersama Olivier hingga berperan sebagai Hedda Gabler untuk Ingmar Bergman dan bekerja dengan sutradara ternama lainnya. Semua ini menunjukkan kemenangan besar di sepanjang kariernya.
Saat mempersiapkan perannya di A German Life, Maggie berlatih hanya satu hari, dibantu oleh sutradara yang dipercayainya, Jonathan Kent.
Namun, hal ini terasa terlalu mudah baginya. Ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu.
Mungkin dia benar-benar sakit, mungkin juga ia meyakinkan dirinya sendiri demikian. Ketika kembali, hampir tidak ada waktu untuk latihan, membuat segalanya lebih sulit – hal yang mungkin menyenangkan baginya.
Penampilannya begitu alami, meskipun timing-nya tetap setepat ketika ia memerankan Wilde.
Dalam beberapa tahun terakhir, Maggie sering menonton balet, kadang-kadang sendiri, berdiri di sudut panggung.
Ia mengagumi penari muda karena bakat, keanggunan, dan dedikasi tanpa pamrih mereka pada seni, yang kemungkinan besar mengingatkan Maggie pada dirinya sendiri.
Meskipun usianya telah lanjut, Maggie muda tetap terlihat dalam dirinya, seorang seniman luar biasa yang melalui bakat dan pengabdian yang kuat pada profesinya, menjadi salah satu aktor terbaik yang pernah ada.- ***
Sumber: The Guardian






