KITAINDONESIASATU.COM-Nama KH Tubagus Ahmad Chatib sebagai tokoh Banten, kembali diusulkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah pusat. Pengusulan gelar pahlawan nasional untuk KH Tubagus Ahmad Chatib, mengingat jasa beliau dalam masa penjajahan. Di masanya, KH Tubagus Ahmad Chatib menjabat sebagai Residen Banten.
Kasi Kepahlawanan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang, Iip Muhammad Arif , mengatakan, penetapan gelar pahlawan nasional untuk KH Tubagus Ahmad Chatib masih menunggu kepulangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dari luar negeri.
“Informasi dari Pak Menteri Saefullah Yusuf (Menteri Sosial) bahwa sidang atau penetapan pahlawan nasional itu menunggu kepulangan bapak Presiden dari lawatannya ke luar negeri,” ujar Iip, Senin (11/11/2024).
Ada tiga tokoh pahlawan yang diajukan kepada pemerintah pusat untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ketiga tokoh pahlawan Banten itu yakni, Tubagus Ahmad Chatib, Kiai Wasyid, dan Kiai Arsyad Thawil. “Kita sudah bicara pengajuan itu sesuai frame-nya provinsi, bukan lagi tingkat kabupaten kota,” ungkap Iip.
Iip mengaku pihaknya tidak bisa berandai-andai, karena kebijakan penetapan gelar pahlawan nasional untuk KH Tubagus Ahmad Chatib wewenang pemerintah pusat.
“Kalau peluang saya tidak bisa memprediksi ya. Tapi, kita berdoa saja, mudah-mudahan kali kelima ini pengajuan yang kelima kali ini sudah waktunya barangkali Kiai Ahmad Chatib selaku usulan dari Kota Serang dinyatakan sebagai pahlawan nasional di tahun 2024 ini,” harap Iip.
Untuk Kiai Wasyid dan Kiai Arsyad Thawil, lanjut Iip, sudah sempat diajukan kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional, hanya saja ada sedikit kesalahan administrasi.
“Untuk Ki Wasyid sebelum KH Chatib juga diajukan, tapi pada saat itu Ki Wasyid ada kesalahan administratif sehingga diulang. Kalau Ki Ahmad Chotib memang tidak pernah ada kesalahan, tetapi memang belum waktunya aja kali. Belum dapat. Belum kebagian,” kata Iip.
KH Tubagus Ahmad Chatib bin Wasi’ al-Bantani atau KH Tubagus Ahmad Chatib, lahir di Pandeglang, Banten, 1885 dan meninggal di Pandeglang juga pada 19 Juni 1966. Almarhum adalah seorang ulama, pejuang, dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten.
Pada 1926, Ahmad Chatib menjadi tokoh penting dalam pemberontakan melawan pemerintah kolonial, yang kemudian membuatnya ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Dan pada 19 September 1945 , Soekarnosebagai Presiden Republik Indonesia mengangkat Ahmad Chatib menjadi Residen Banten.
Almarhum juga pernah menduduki jabatan penting lain di pemerintahan Indonesia anatara lain anggota Dewan Pertimbangan Agung, DPR Gotong Royong, bahkan pernah menduduki kursi sebagai anggota MPRS dan BPPK.
Pada pertengahan September 1945 diadakan perundingan dengan para tokoh Masyarakat Kabupaten Serang di kediaman Zulkarnain Suria Kartalegawa, di antaranya dengan KH Ahmad Chatib dan KH Syam’un. Perundingan tersebut menghasilkan pembagian tugas pemerintahan di Banten. para pemuda kemudian mengusulkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar segera mengangkat Kiai Haji Ahmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani administrasi dan pemerintahan sipil di Banten, serta KH Syam’un untuk menangani segala unsur militer.
Setelah dilantik sebagai Residen Banten, KH Amad Chatib menunjuk Zulkarnaen Suria Kertalegawa menjadi Wakil Residen. Untuk mengisi jabatan bupati di daerah Serang, Pandeglang dan Lebak, K.H. Ahmad Chatib meminta para bupati lama untuk sementara tetap dalam jabatan dan meneruskan tugasnya.
Sementara KH Syam’un yang ditunjuk menangani bidang militer segera mewujudkan pembentukan Badan Keamnan Rakyat (BKR) di Banten. Yang menjadi anggota BKR di Banten antara lain bekas anggota PETA, Heiho, Hizbullah, Sabilillah, API, dan bentuk kelaskaran lainnya.[
Selain peran KH Tubagus Ahmad Chatib dalam roda pemerintahan negara, dalam usahanya memajukan agama dan umat ia mencetuskan berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), serta mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Islam Maulana Yusuf yang di kemudian hari berganti nama menjadi UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten.






