Permintaan itu ditolak oleh Karmaka. Niatnya tetap sama meski makin banyak pegawai yang mendatanginya.
Baru akhirnya pada 1963, Karmaka menjadi bagian manajemen NISP atas permintaan mertuanya. Ini dilakukan untuk menyelamatkan bank tersebut.
“Saya Kaget. Dalam pembicaraan telepon itu mertua saya marah-marah. Bukan marah kepada saya, tapi kepada orang-orang yang selama ini dia percayai di NISP.” kata Karmaka, dikutip dalam buku “Karmaka Surjaudaja: Tidak Ada yang Tidak Bisa (2013)”.
Terjadi penyelewengan dana di NISP saat pemiliknya pergi ke RRT. Mereka membuat promosi pembukaan rekening tabungan mobil tanpa sepengetahuan sang mertua.
Aksi tersebut disebut sebagai penyelewengan mengingat kala itu mobil adalah barang mahal. Uang yang diminta kepada nasabah ternyata digunakan pihak manajemen untuk kepentingan pribadi, bahkan dibawa kabur.
Sejak saat itu dia menjadi bos Bank NISP. Tantangan baru menghadapinya, yakni mengurus bank dari seseorang yang tanpa pengalaman di dunia perbankan serta berlatar belakang guru les dan buruh pabrik yang cuma lulusan SMA.
Dia berusaha mengatasinya. Salah satunya menemui Presiden Komisaris dan Presiden Direktur NISP dengan bercerita keinginannya untuk membantu membereskan masalah.
Namun niat Karmaka diremehkan, karena tidak memiliki latar belakang perbankan. Selain itu, permintaan itu ditolak karena manajemen tidak mau Karmaka masuk ke NISP.
“Saya akhirnya hanya minta untuk jadi kasir saja,” ujar Karmaka. Dari posisi itu memungkinkannya menutup celah korupsi dari oknum manajemen.




